BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Dalam Kehidupan sehari-hari, kesehatan adalah sebuah nikmat
yang tak ternilai. Banyak orang harus merelakan waktunya terbuang untuk
berbaring di rumah maupun rumah sakit untuk mengembalikan kondisi tubuh yang
menurun. Banyak penyebab menurunnya kondisi tubuh. Beberapa diantaranya
disebabkan oleh serangkan Virus dan Bakteri. Kedua mahluk mikroorganisme
tersebut merupakan unsur dalam bibit penyakit yang paling banyak menyerang
mahluk hidup.
Virus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan
mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa,
hanya dapat di lihat dengan mikroskop elektron, penyebab dan penular penyakit
seperti cacar, influenza, dan rabies. Sedangkan menurut salah satu situs, Virus
Ebola sebenarnya termasuk salah satu
virus yang menyebabkan sindrom demam berdarah. Epidemi virus Ebola ini tinggi di daerah Afrika
termasuk Zaire, Gabon, Pantai Gading, dan Sudan. Biasanya virus Ebola ini dapat menyebar dengan cepat
pada satu keluarga. Dimana jika salah satu anggota keluarga terinfeksi, anggota
yang lain dengan mudah terinfeksi juga.
1.2. Identifikasi Masalah
1 . Apa Itu virus?
2 . Apa itu virus Ebola?
3 . Kapan virus tersebut pertama kali
ditemukan?
4 . Dimana virus tersebut pertama kali
ditemukan?
5 . Apa gejala seseorang terjangkiti virus
tersebut?
6 . Apa dampak yang diakibatkan virus tersebut?
7 . Berapakah persentase harapan hidup korban?
8 . Bagaimana cara menakhlukan virus tersebut?
9 . Adakah vaksin untuk mencegah atau mengobati
korban?
10 . Apa yang
harus dilakukan untuk mencegah virus tersebut?
1.3. Rumusan Masalah
Dari uraian identifikasi masalah di
atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
“Seberapa
Bahayakah dan bagaimana melakukan pencegahan terhadap serangan virus Ebola?”
1.4.
Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang Virus Ebola.
2. Untuk mengetahui bahaya – bahaya bila
terjangkiti Virus Ebola
3.
Untuk mengetahui ciri-ciri apabila
seseorang terjangkiti Virus Ebola
4.
Untuk mengetahui cara mencegah
terjangkitnya Virus Ebola
BAB II
Pembahasan
2.1. Landasan Teori
·
Ebola : a severe and
often fatal disease in humans and nonhuman primates ( monkeys and chimpanzees )
caused by Ebola virus; characterized by high fever and internal bleeding; can
be spread from person to person is largely limited to Africa. Bila hasil pencarian
Kamus Bahasa Inggris Oxford tersebut diartikan ke bahasa Indonesia
Dapat diartikan sebagai berikut:
Ebola : Sebuah wabah hebat atau bahkan
fatal yang menyerang manusia dan mahluk bukan manusia berupa primara ( monyet
dan simpanse ) yang disebabkan oleh virus Ebola; dicirikan dengan demam tinggi
dan pendarahaan atau luka dalam; dapat
ditularkan dari orang ke orang yang biasanya terjadi di Afrika
·
Menurut situs ilmu Pengetahuan,
nationalgeographic.com Ebola atau lebih dikenal dengan sebutan
demam berdarah Ebola merupakan
penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola
yang pertama kali ditemukan di Afrika pada tahun 1976.
·
Sedangkan dari situs forum tanya jawab yahoo! Answer
ditemukan penjelasan sebagai berikut: Ebola
adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus,
familia Filoviridae, dan juga nama dari penyakit yang disebabkan oleh virus
tersebut. Penyakit Ebola sangat
mematikan. Gejala-gejalanya antara lain muntah, diare, sakit badan, pendarahan
dalam dan luar, dan demam. Tingkat kematian berkisar antara 50% sampai 90%.
Asal katanya adalah dari sungai Ebola
di Kongo.
·
Virus Ebola sebenarnya termasuk salah satu virus yang menyebabkan sindrom
demam berdarah. Epidemi virus Ebola
ini tinggi di daerah Afrika termasuk Zaire, Gabon, Pantai Gading, dan Sudan.
Biasanya virus Ebola ini dapat
menyebar dengan cepat pada satu keluarga. Dimana jika salah satu anggota
keluarga terinfeksi, anggota yang lain dengan mudah terinfeksi juga.
Sejarah Ditemukan Virus Ebola
Virus Ebola ditemukan di Sudan dan Zaire pada tahun 1976. Habitatnya di
alam belum diketahui, begitu pula prosesnya menjadi epidemic. Nama Ebola sendiri datang dari nama sungai
dekat tempat ditemukannya virus ini.
Ebola,
atau lebih dikenal dengan sebutan demam berdarah Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola yang pertama kali ditemukan di
Afrika pada tahun 1976. Gejala awal penyakit ini berupa demam, sakit kepala,
nyeri sendi dan otot, sakit tenggorokan dan gejala lain yang disertai dengan
diare, muntah, sakit perut. Dalam beberapa kasus penyakit ini bahkan
menyebabkan ruam, mata merah dan pendarahan secara internal dan eksternal.
The National Institutes of Health
mencatat hampir 90 persen orang yang terinfeksi virus Ebola, meninggal dunia. Virus ini mewabah di beberapa negara Afrika
seperti Republik Demokratik Kongo, Gabon, Sudan, Pantai Gading, dan Uganda.
Virus Ebola dapat hidup di atmosfer selama beberapa menit, kemudian akan
mati oleh sinar ultraviolet. Saat ini virus Ebola
merupakan virus yang sangat mematikan. Virus Ebola merusak jaringan dan sel tubuh dan menyebabkan kematian dalam
jangka waktu kurang dari 2 minggu.
Habitat
Virus Ebola
Sebenarnya manusia bukanlah sarang
alami dari virus Ebola. Orang pertama
kali terjangkit virus ini diyakini mereka yang melakukan kontak langsung dengan
hewan yang terinfeksi virus tersebut. Hewan yang berpotensi menyebarkan virus Ebola kepada manusia antara lain
simpanse, gorila, antelop hutan, monyet cynomolgus.
Setelah seseorang terinfeksi dari
hewan maka orang tersebut berpotensi menyebarkan virus kepada orang lainnya
melalui cairan darah, air liur, lendir.
Para ilmuwan hingga kini masih belum mengetahui darimana virus Ebola berasal. Penelitian menunjukkan jika
kelelawar dapat terinfeksi virus Ebola
namun mampu bertahan dengan virus tersebut tanpa terjangkit penyakit Ebola. Kelelawar diklaim sebagai hewan
yang memainkan peran penting mempertahankan virus di alam
.
Penularan Virus Ebola
Penyebaran virus Ebola
antar manusia bisa melalui makanan atau berpegangan. Kontak langsung dengan
darah atau cairan yang terkontaminasi juga bisa menginfeksi manusia. Tidak
hanya itu, manusia juga bisa terinfeksi hanya dengan menyentuh objek (misalnya
jarum) yang sudah terkontaminasi. Ebola
ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita Ebola. Misalnya darah, feses, urin,
ludah dan keringat.
Setelah seseorang terinfeksi dari hewan maka orang tersebut berpotensi
menyebarkan virus kepada orang lainnya melalui cairan darah, air liur, lendir.
Berdasarkan beberapa pengalaman di beberapa negara tempat kasus ini
terjadi, Ebola sering menyebar dan
menyerang para pekerja di bidang layanan kesehatan masyarakat. Tentu saja hal
ini lumrah karena mereka bertugas merawat pasien yang terjangkit virus.
Terlebih jika mereka tidak menggunakan pelindung seperti masker dan sarung
tangan. Penggunaan jarum suntik yang baru juga sebagai sarana penyebaran virus.
Gejala Terjangkitnya Virus Ebola
Biasanya gejala awal yang tampak seperti demam tinggi,
sakit kepala, nyeri otot, sakit perut dan diare. Terkadang disertai dengan
sakit tenggorokan, cegukan, dan mata merah dan gatal.
Tanda-tanda dan gejala lain yang biasanya muncul antara lain muntah, perdarahan
pada hidung, muntah darah, dan mata berdarah.
Selanjutnya pada kondisi yang lebih parah dapat
ditemukan nyeri dada, shok bahkan tidak jarang berakhir dengan kematian.
Untuk itu sangatlah baik jika kita mengenali apa-apa saja yang menjadi penyebab
penyakit infeksi ini. Tercatat telah terjadi 1.850 kasus dari Virus Ebola dan 1.200 korban meninggal dunia
dan
·
Setelah gejala-gejala diatas virus Ebola mulai berreplikasi. Virus Ebola menyerang darah. Sel darah yang
mati akan menyumbat kapiler darah dan menyebabkan kulit memar, melepuh bahkan
larut seperti kertas basah.
·
Pada hari ke-6 darah keluar dari mata, hidung, dan
telinga. Selain itu penderita memuntahkan cairan hitam yang merupakan jaringan
dalam tubuh yang hancur.
·
Pada hari ke-9 biasanya penderita meninggal dunia.
Penyebab
Inveksi Virus Ebola
Demam berdarah Ebola disebabkan oleh 4 dari 5 spesies Ebola. Keempat virus tersebut antara lain EBO-Z, Ebola Virus Sudan (EBO-S), Ebola virus Côte-d’Ivoire (EBO-C), dan Ebola virus Bundibugyo (EBO-B).
Sedangkan spesies Ebola kelima adalah
Ebola virus Reston (EBO-R). Spesies
EBO-R sebenarnya bisa juga menginfeksi manusia, namun sekarang ini telah
dilaporkan bahwa infeksi EBO-R tidak menyebabkan penyakit.
Pria dan wanita memiliki peluang yang sama terkena
infeksi Ebola. Misalnya pria. Pria
yang bekerja di hutan (terutama di Afrika atau Filipina) memiliki risiko yang
lebih besar terinfeksi virus Ebola. Nah,
jika kebetulan anda telah terinfeksi virus ini, sangat dianjurkan bagi anda
untuk mendapat terapi yang tepat agar semua keluhan di atas dapat teratasi.
Terapi
Untuk Korban Terjangkiti Virus Ebola
Sebenarnya tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit
ini. Untuk saat ini pasien hanya mendapat terapi pendukung seperti cairan
elektrolit yang berfungsi untuk mempertahankan kadar oksigen dan tekanan darah
si pasien.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam terapi
penyakit infeksi Ebola.
1.
Perawatan harus
diberikan secara ketat. Karena virus Ebola
sangat mudah menular.
2.
Semua cairan yang keluar
dari tubuh pasien baik itu liur, urin, ataupun darah harus ditangani secara
hati-hati. Karena dari cairan-cairan ini virus Ebola pun dapat menular.
3.
Jika pasien meninggal,
sebisa mungkin dikubur secepatnya dengan kontak sedikit mungkin.
Pencegahan Terhadap Serangan Virus Ebola
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, virus Ebola mampu menular dari satu manusia ke
manusia lain hanya dengan kontak langsung saja. Untuk itu pencegahan terhadap
penyakit infeksi Ebola ini pun cukup
sulit.
Yang paling terutama adalah menghindari kontak
langsung dengan orang yang terinfeksi virus Ebola
sebisa mungkin. Hindari jabat tangan, berciuman, dan
melakukan hubungan seks dengan penderita. Meskipun wabah Ebola banyak terjadi di negara-negara Afrika, bukan tidak mungkin
virus tersebut dapat menyebar ke seluruh dunia.
Apabila ada
anggota keluarga terinfeksi virus ini sangat dianjurkan agar orang tersebut
dirawat di rumah sakit. Begitu juga apabila ada teman anda yang meninggal
akibat penyakit ini, usahakan jangan ada kontak langsung dengannya.
Dan bagi beberapa pekerja di hutan daerah epidemi
penularan virus Ebola, sangat
dianjurkan untuk selalu memakai sarung tangan agar tidak kontak langsung dengan
objek-objek yang mungkin telah terkontaminasi.
Serangan-Serangan
Awal Virus Ebola
PADA tahun 1967 terjadi wabah virus
mematikan yang kemudian disebut virus Marburg karena penderita pertama yang
diketahui adalah seorang pekerja pabrik vaksin Behringwerke di Marburg, Jerman.
Tugas sehari-hari pekerja itu adalah menangani binatang-binatang percobaan
untuk membuat vaksin, terutama monyet-monyet tertentu dari Afrika Tengah.
Korban berikutnya adalah seorang
dokter hewan dari Yugoslavia yang juga menangani monyet-monyet dari jenis yang
sama dengan yang dibawa ke Marburg. Korban wabah virus Marburg ini, setidaknya
yang tercatat, tidak banyak.
Negara-negara Eropa segera
menghentikan impor monyet-monyet yang diduga membawa virus tersebut, sementara
yang sudah masuk ke Eropa dimusnahkan.
Kira-kira sepuluh tahun kemudian, tahun
1976, terjadi wabah lagi yang disebabkan oleh virus yang serangan utamanya
terjadi di tepian sungai Ebola, juga
di Afrika Tengah. Para pakar virus dari WHO dan CDC Amerika Serikat didatangkan
ke sana.
Pada mulanya, mereka mengira virus
sejenis virus Marburg sebagai penyebabnya karena gejala awal penyakit yang
ditimbulkan mirip penyakit Marburg, hanya lebih ganas. Tetapi, kemudian mereka
berkesimpulan bahwa virusnya adalah jenis baru dan diberi nama virus Ebola.
Vaksin Virus Ebola
Kapanlagi.com – Salah satu penyakit paling
berbahaya di dunia yang disebabkan virus Ebola
tak lama lagi bisa dicegah penularannya, sebab vaksin Ebola telah sukses diujikan terhadap primata dan dalam waktu dekat
bakal diujikan ke tubuh manusia.
Tim peneliti dari Amerika dan
Kanada yang dipimpin Dr Anthony Sanchez melaporkan perkembangan tersebut dalam
pertemuan ke-162 Komunitas Mikrobiologi Umum yang digelar di gedung Pusat
Konferensi Internasional Edinburgh, Senin (31/3).
“Ancaman biologi yang disebarkan
oleh virus Ebola tidak bisa kita
abaikan. Wabah Ebola yang mematikan
terus merebak,” kata Sanchez, seperti dikutip dari situs www.eurekalert.com – situs informasi terkini
perkembangan sains dan teknologi.
Sanchez mengatakan, dengan pola
transportasi perjalanan lintas benua dan pariwisata yang berkembang demikian
masif beberapa waktu terakhir telah membuat Ebola
menyebar dari tempat paling terasing ke seluruh belahan di dunia.
“Dan Ebola sudah menjadi potensi terbesar bagi hadirnya senjata berupa
bio-terorisme. Kita benar-benar membutuhkan perlindungan berupa vaksin,”
ungkapnya.
Sampai saat ini, tercatat sekitar
1.850 kasus demam akibat virus Ebola
terjadi di seluruh dunia. Gejala awal sakit akibat virus ini antara lain berupa
demam, sakit kepala, tenggorokan kering, lemas, pilu otot, diare, dan sakit
perut.
Gejala lain yang kerap ditunjukkan
oleh orang yang terpapar Ebola adalah
bintik-bintik merah di kulit, mata merah, dan mata berdarah.
Demikian mematikannya penyakit ini
sehingga menurut statistik, angka kematian akibat virus Ebola mencapai 90%, artinya hanya 10% saja pasien virus Ebola yang dapat selamat.
Karena sifatnya yang sangat
mematikan, upaya memproduksi dan menguji vaksin Ebola sangatlah sulit dilakukan oleh para ahli. Salah satu faktor
yang menghambat penelitian vaksin Ebola
ini adalah minimnya fasilitas perlindungan laboratorium yang bisa melindungi
staf peneliti.
“Virus Ebola punya ancaman tingkat 4,” kata Sanchez.
“Sama sulitnya dengan memperoleh
staf dan fasilitas yang tepat, vaksin untuk virus seperti demam Ebola, Marburg, dan Lassa juga susah
diproduksi karena mereka `membunuh` virus-virus yang memacu antibodi darah.
Untuk virus-virus yang mematikan seperti Ebola,
kita perlu mendapat respon sel yang segera, yang melibatkan produksi sel-T
pembunuh sebelum kekebalan tubuh cukup kuat untuk mencegah atau menangkal
infeksi,” kata dia menjelaskan.
Para peneliti saat ini menggunakan
berbagai teknik re-kombinasi DNS, yang memungkinkan mereka memicu respon sel
dan memproduksi vaksin yang efektif terhadap primata bukan-manusia.
Salah satu kandidat vaksin yang
akan diujikan kepada manusia untuk pertama kalinya adalah vaksin yang sudah
memasuki fase uji-klinis pertama pada 2006.
“Infeksi virus Ebola di dalam tubuh manusia memang bisa sangat mematikan, tapi
monyet membuktikan berhasil selamat dari infeksi virus tersebut dan ini bisa
menjadi contoh yang sangat bermanfaat bagi uji-coba terhadap binatang,”
katanya.
Pengujian vaksin Ebola yang menggunakan primata
bukan-manusia menunjukkan hasil yang gamblang, dan memberikan perkembangan yang
menjanjikan bagi hadirnya vaksin pelindung, tambahnya.
“Keberhasilan uji-coba vaksin di
tubuh manusia ini akan jadi berita gembira buat kita semua, karena kita bisa
membekali tenaga medis kita bila wabah Ebola
merebak. Kita bisa mencegah angka kematian yang tinggi dan mengendalikan
penyebaran penyakit berbahaya ini,” kata peneliti dari Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat itu.
Selain mengumumkan perkembangan
penelitian mereka, tim dari Amerika Serikat juga berharap temuan ilmiah mereka
bisa memacu penelitian di vaksin penyakit menular lainnya seperti virus
Marburg, HIV, dan flu burung. (*/cax)
Contoh Kasus Virus Ebola (1)
REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA --
Virus Ebola yang mematikan kembali
mewabah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan virus yang ganas itu telah
menewaskan 13 orang di Uganda.WHO menyatakan sedang mencegah kian memawabahnya virus
yang mematikan itu.
Joaquim Saweka, perwakilan WHO di Uganda mengatakan infeksi Ebola diduga muncul pada awal Juli di
Kabupaten Kibale, sekitar 170 kilometer (100 mil) barat ibu kota Kampala.
"Ada sebanyak 20 orang diduga terjangkit Ebola dan 13 dari mereka telah meninggal," kata Saweka.
"Satu tim ahli dari pemerintah, WHO dan CDC (Pusat Pengendalian
Penyakit Amerika Serikat kini berada di lapangan dan menindaklanjuti pada semua
kasus yang dicurigai, dan mereka yang melakukan kontak dengan pasien."
Saweka mengatakan asal-usul wabah belum dikonfirmasi, tetapi 18 dari 20
kasus dipahami terjadi pada satu keluarga.
Kibale dekat Republik Demokratik Kongo (DRC) merupakan tempat virus itu
muncul pada tahun 1976, mengambil nama dari Sungai Ebola.
Gejala-gejala termasuk demam mendadak, sangat lemah, nyeri otot, sakit
kepala dan sakit tenggorokan, diikuti oleh muntah, diare, ruam ginjal, gangguan
fungsi hati dan perdarahan internal maupun eksternal.
Ebola terakhir di Uganda
dilaporkan pada Mei tahun lalu ketika menewaskan seorang gadis 12-tahun.
Negara yaling dahsyat dilanda wabah itu pada tahun 2000 ketika 425 orang
terinfeksi, dan lebih dari separohnya di antaranya meninggal.
2.2. Pembahasan
Untuk dapat mengetahui bahaya Virus
Ebola, Kita dituntut untuk memahami
segala macam mengenai virus itu sendiri. Sehingga kita mampu mengantisipasi dan
bertindak dengan aman apabila kita berpergian ketempat dekat dengan lokasi
dimana serangan virus Ebola sering
memangsa ataupun apabila serangan virus sudah mendekati kota-kota tempat
penduduk. Karena hal tersebut merupakan mimpi buruk seluruh penduduk dunia, dan
alangkah baiknya jika kita mengetahuinya.
Walaupun telah banyak peneliti di
bidang Virologi yang berusaha menemukan vaksin dan mencoba menyembuhkan korban
terjangkit virus Ebola, Namun tetap
belum dapat ditemukan jalan keluarnya. Tercatat 1.850 kasus Ebola dan 90% diantaranya korban
meninggal dunia. Angka tersebut merupakan angka persentasi kematian yang cukup
besar. Salah satu pendukungnya adalah belum ditemukannya vaksin untuk virus
tersebut. Sementara waktu, vaksin yang bekerja 100% hanya pada Simpanse dan
Kera, namun belum pada manusia.
Dalam Upaya penyembuhan pasien
dilakukan dengan beberapa hal yang masih belum bisa dikatakan maksimal. seperti
menyeimbangkan cairan pasien, menjaga tekanan darah dan kadar oksigen serta
menjaga pasien yang terjangkit dari hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi.
Kesemua itu dilakukan dengan mode terapi perawatan khusus. Namun, tak ada
pasien yang dapat bertahan hidup lebih dari 3 minggu.
Hambatan utama dalam penelitian dan
pembuatan Vaksin untuk virus Ebola adalah
minimnya fasilitas perlindungan laboratorium yang bia melindungi staff peneliti
atau ahli mengingat ancaman virus Ebola yang
merupakan tingkat 4 atau tinggi menurut para ahli. Virus Ebola sangat mudah menular dan membutuhkan perlakuan khusus. Virus Ebola, Marburg, dan Lassa juga
sulit diproduksi karena mereka `membunuh` virus-virus yang memacu antibodi
darah. Untuk virus-virus yang mematikan seperti Ebola, kita perlu mendapat respon sel yang segera, yang melibatkan
produksi sel-T pembunuh sebelum kekebalan tubuh cukup kuat untuk mencegah atau
menangkal infeksinya.
Ancaman Wabah Virus Ebola yang mematikan terus merebak.
Dengan pola transportasi perjalanan lintas benua dan pariwisata yang berkembang
demikian masif beberapa waktu terakhir telah membuat Ebola menyebar dari tempat paling terasing ke seluruh belahan di
dunia. Dan Akan menjadi mimpi buruk apabila Ebola
sudah menjadi potensi terbesar bagi hadirnya senjata berupa bio-terorisme. Maka
benar-benar di butuhkan vaksin yang mampu menangkalnya apabila Virus Ebola benar-benar dijadikan senjata
biologis oleh para terroris.
Sejauh ini belum banyak yang bisa
dilakukan untuk menyembuhkan korban terjangkit virus Ebola. “Mencegah lebih baik daripada mengobati” Kata tersebut
pantas adanya untuk di gunakan sebagai pedoman langkah yang harus dilakukan.
Mencegah terjangkitnya virus Ebola adalah hal yang satu-satunya dilakukan.
Hindari kontak langsung, seperti jabat tangan, berciuman, ataupun terkena
cairan dari penderita atau korban Virus Ebola.
Apabila ada korban yang memiliki gejala terjangkit Ebola yakni muntah, perdarahan pada hidung, muntah
darah, mata berdarah, kulit memar dan melepuh-laut seperti kertas basah,
langkah terbaik ialah membawa korban ke rumah sakit yang menangani Virus atau
menghubungi rumah sakit yang menangani virus untuk meminta melakukan tindakan
penjemputan terhadap korban terjangkit Ebola. Dan bila berada di hutan
daerah epidemi penularan virus Ebola,
sangat diwajibkan untuk selalu memakai sarung tangan dan peralatan pelindung
pencegah kontak langsung agar tidak kontak langsung dengan objek-objek yang
mungkin telah terkontaminasi.
2.3.
Kesimpulan
Pada uraian pembahasan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa untuk mengetahui Seberapa Bahayakah dan
bagaimana melakukan pencegahan terhadap serangan virus Ebola, kita harus:
·
Mengetahui perihal tentang Virus Ebola
·
Mengetahui lokasi epidemik virus Ebola
·
Memahami dan membedakan ciri orang
yang terjangkit dan tidak terjangkiti virus Ebola
·
Mempelajari virus Ebola
·
Memahami tingkat ancaman virus Ebola
·
Menghindari kontak langsung dengan
orang lain yang tidak dikenal
BAB III
Penutup
3.1. Kesimpulan
Untuk dapat
mengetahui Seberapa Bahayakah dan bagaimana melakukan pencegahan
terhadap serangan virus Ebola,, kita perlu:
A.
Kita
harus memiliki pengetahuan mendalam tentang virus Bahaya dan bagaimana
melakukan pencegahan terhadap serangan virus
Ebola.
B.
Kita harus mengetahu media-media
penularan virus Ebola untuk
menjangkiti korbannya
C.
Kita harus mengetahui ciri-ciri pasien
atau orang yang terjangkiti virus Ebola
dan mencoba untuk menghindari kontak langsung dengan penderita, baik cairan,
kotoran, maupun lendir
D.
Kita harus menggunakan pelindung
seperti masker dan sarung tangan apabila harus berkontak langsung dengan
penderita yang terjangkiti virus Ebola
E.
Kita harus berhati-hati apabila
menemukan bangkai hewan seperti kera, simpanse dan monyet. Usahakan untuk tidak
melakukan kontak langsung dengan bangkai tersebut.
3.2 Kritik dan Saran
1.
Sebaiknya
mengetahui dengan jelas tentang bahaya serangan virus Ebola,
2.
Sebaiknya tidak berpergian ke tempat
dimana terjadinya kasus virus Ebola
3.
Apabila keadaan mendesak untuk
mengunjugi lokasi terjadinya kasus virus Sebaiknya tidak berpergian ke tempat
dimana kasus virus Ebola, seperti negaranya, usahakan tidak membuat
kontak langsung dengan objek sekitar.
Daftar Pustaka