Saturday, June 20, 2015

Puasa ini tak pernah lagi berkesan semenjak tahun itu, semenjak dua ribu empat belas.

Puasa tak pernah lagi berkesan semenjak tahun lalu. 5 tahun yang lalu, mungkin yang terbaik, selagi kompor gas itu masih menguning tungku apinya, dan begitu dinginnya terasa. selagi lantai itu masih asing. dapur itu bukan disini. tempat itu bukan disini. tempat kami mengasingkan diri dari keterusiran. tempat itu dimana air mata perjuangan dan peluh mengeluarkan baranya.

Puasa tak pernah lagi berkesan semenjak puding tahu itu tidak ada di meja kami. Semenjak bunga salad itu tidak lagi menghiasi meja makan kami di lebaran tahun lalu. Bukan aku tak tau resepnya, bukan aku tak mau membuatnya. Aku hanya tak ingin menandinginya. Seorang yang jarang memasak. Namun masakannya selalu sempurna pada waktunya. Selalu seperti itu hingga citarasanya menginggalkan kenangannya. 

Masalalu memang tak memihak pada kami. Tapi setiap peluh yang menetes, setiap air mata yang meluap, takkan pernah menguap. percayalah, takkan ada kenangan yang meluap begitu saja. Maafkan jika aku masih disini, masih belum bisa jadi yang terbaik, Karena sepertinya hanya ada satu nama yang tak bisa terlupa dalam jejaknya. jejakku, jejak kita, jejak kami, Ya, Tempat itu selalu untuk kita bertiga takkan pernah menjadi lebih besar untuk setengah ataupun satu. Mungkinpun satu itu bukan dari sini, tapi untuk yang dari luar yang telah mengantarkanmu pada sang keabadian, yang mengantarkanmu untuk menyusuri jalan itu untuk waktu yang singkat, terlalu singkat untuk kembali mengingat berapa lama sisa hidup. 

Dan kemudian di hari ini, dan mungkin di hari-hari setelah hari ini, mungkin untuk yang takkan pernah tersebutkan, Bahagia kami hari seolah melupakannya, maka tak pernah lupa akan terimakasih masih jadi lakuan terbaik yang selalu diajarkannya, Lagipula Sebenarnya tidak. dalam bahagia sebenarnya kami menangis rindu. Kami benci ini, karena ini terjadi selamanya. 

Puasa ini tak pernah lagi berkesan semenjak tahun itu, semenjak dua ribu empat belas. 21-06-2015 

Tuesday, June 16, 2015

Perkembangan Kemampuan Berbahasa, Membaca, dan Menulis pada Anak Usia 0 Tahun sampai dengan 6 Tahun (Tugas Akhir Matakuliah PPD)





Perkembangan Kemampuan Berbahasa, Membaca, dan Menulis
pada Anak Usia 0 Tahun sampai dengan 6 Tahun
Disusun untuk memenuhi tugas Akhir mata kuliah umum Psikologi Peseta Didik
Dosen Pengampu: Judrik Jahja



Description: UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.png




Oleh: Muhammad Fariz Tamara Asmarakusuma (2115142174)

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015
Bab I
Pendahuluan
1.1            Latar Belakang
Dalam kegiatan perkuliahan pada umunya, dosen Sejarah sastra mengungkapkan; agar manusia dapat terukir namanya dalam sejarah, maka karyanya-lah yang di lihat dan mampu terkenang selamanya. Sehingga dalam konteks ini, sesuai dengan jurusan penulis, maka tulisan karya sastra dan artikel-artikel bermanfaatlah yang kelak dapat membuat manusia dapat terukir namanya di lini waktu perkembangan zaman.
Seorang tenaga pendidik bahasa Indonesia sudah menjadi keharusan untuk mampu memperbaiki penggunaan bahasa yang kurang tepat. Alangkah baiknya kita menyegah sebelum terjadinya kesalahan dalam berbahasa yang kelak akan merubah pelbagai konteks dan kaidah yang berlaku. Dalam hal ini, bahasa Indonesia, Terlebih bahasa bersifat dinamis.
Minat baca seorang anak adalah hal penting dalam metode penyerapan informasi yang valid. Agar kelak dapat di kendalikan dan di pertanggungjawabkan sumber dan kesalahan informasin dapat di perbaiki di kemudian hari
Sebagai calon tenaga pendidik, maka menjadi tanggung jawab tersendiri untuk mampu memberikan rangsangan kepada peserta didiknya kelak agar mempunyai minat untuk menulis karya-karya yang bernilai guna.
1.2            Identifikasi Masalah
Adapun di bawah ini beberapa identifikasi masalah yang dapat dipertanyakan dari penggunaan judul penelitian, yang kemudian dapat di jadikan kerangka berfikir dalam tulisan ilmiah ini. Antara lain:
-          Apakah yang dimaksud dengan kemampuan berbahasa?
-          Apakah yang dimaksud dengan kemampuan membaca?
-          Apakah yang dimaksud dengan kemampuan menulis?
-          Adakah segmentasi khusus dari masa 0 Tahun sampai dengan 6 tahun?
-          Bagaimana relasi berbahasa, membaca dan menulis?
-          Apa pentingnya perkembangan kemampuan berbahasa, membaca dan menulis?
-          Apakah dampak perkembangan kemampuan berbahasa, membaca dan menulis dengan  psikologis anak pada masa 0 tahun sampai dengan 6 tahun ?
-          Bagaimana cara mengembangkan ke arah positif kemampuan berbahasa, membaca dan menulis?

1.3            Perumusan Masalah

Dari beberapa identifikasi masalah, dapat di simpulkan satu pertanyaan, yaitu:

“Bagaimana perkembangan kemampuan berbahasa, membaca dan menulis pada masa 0 tahun sampai dengan 6 tahun dan apa relasinya dengna psikologi perkembangan?”

1.4     Tujuan Penulisan
Seperti yang sudah di jelaskan pada subbab latar belakang masalah, Sebagai calon tenaga pendidik, maka menjadi tanggung jawab tersendiri untuk mampu memberikan rangsangan kepada peserta didiknya kelak agar mempunyai minat untuk menulis karya-karya yang bernilai guna. Serta tanggung jawab moral untuk menjadikan masyarakat Bahasa yang lebih baik untuk perkembangan linguistik Indonesia.
Selain itu, demi melakukan pencegahan terhadap bentuk-bentuk menyimpang terhadap hal-hal negatif yang dapat terjadi pada kemudian hari, maka alangkah baiknya sejak dini di pupuk kegiatan positif berbahasa, membaca dan menulis agar kembali menjadi budaya bangsa Indonesia.



BAB II
Kajian Pustaka

2.1     Kajian Teoritis

Perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih-nlaju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development) (McLeod, 1989).
Definisi atau pengertian bahasa, secara langsung di jelaskan oleh dosen linguistik umum jurusan bahasa dan sastra Indonesia pada matakuliahnya, Drs. Sintowati Rini Utami, M.Pd. menjelaskan, Bahasa adalah satu lambang bunyi yang bersifat arbitrer dengan objeknya. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi menyampaikan satu pokok pikiran kepada manusia lainnya dengan seperangkat alat ucap hanya dimiliki manusia.
Sedangkan membaca, sebenarnya merupakan salah bentuk konkrit dari berkomunikasi, yaitu mengartikan satu lambang yang menunjuk pada satu objek. Membaca berarti menggali informasi dari suatu wacana yang berisikan satu pikiran utuh pemikiran orang lain.
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Kemampuan berbahasa artinya adalah kemampuan untuk menggunakan alat ucap sebagaimana mestinya untuk berkomunikasi antar manusia menyampaikan ide atau pikiran secara utuh kepada manusia lainnya.
Anak usia dini adalah anak berusia 0 sampai dengan 6 tahun. Anak usia dini berada pada tahap pertumbihan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat (Slamet, 2005:5). Sehingga akan sangat mudah menanamkan suatu pola pikir baik positif maupun negatif yang mudah di cerna dan membawa kemudahan.
Adapun segmentasi-segmentasi yang menjadi acuan dan batasan tertendu dalam satuan perkembangan anak,dalam hal peserta didik maupun anak yang merupakan anak dalam ikatan batin. Menurut situs ensiklopedi wikipedia.org
 Adapun masa perkembangan pada usia 0-1 tahun, infant adalah periode pertama kehidupan sesudah kelahiran.Pada masa ini, anak masih belum bisa berbicara sebagaimana mestinya, masih meraba dan mencoba mengikuti suara yang ada di sekitarnya. Istilah ini biasanya diterapkan hanya pada tahun yang pertama.
Segmentasi masa perkembangan selanjutnya adalah 2-3 tahun yaitu toddler pada masa perkembangan ini sangat cocok jika diberikan materi tentang relasi atau interaksi sosial antar manusia, pembentukan emosi, dan keterampilan kognitiv.
Segmentasi masa perkembangan yang terakhir yang penulis soroti adalah 4--6 tahun, yaitu pada masa preschool. Pada masa ini, anak dipersiapkan menerima informasi di sekolahnya kelak.    
Bab III
Pembahasan
3.1     Pembahasan Masalah
    setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa perkembangan selama hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisme tersebut, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Jadi, arti peristiwa perkembangan itu khususnya perkembangan manusia tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis dan kebahasaan.
Menurut Maria Montessori, enam tahun pertama masa anak sebagai jangka waktu yang palingpenting bagi perkembangannya. Tahun prasekolah  menjadi masa anak membina kepribadian mereka. Karenanya untuk mengembangkan minat dan potensi anak harus dilakukan pada masa awalini agar anak menjadi diri mereka dengan segala kelebihannya. Orangtua dan pendidik harus dapatmembantu merealisasikan potensi anak untuk menimba ilmu pengetahuan, bakat, dan kepribadianyang utuh.Acuan memilih metode pengajaran bahasa untuk anak usia 0-6 tahun adalah melibatkan anak dalamkegiatan belajar. Ketika di sekolah anak diajak memilih materi yang ingin dieksplorasi. Dengan begituanak mendapat inspirasi dan belajar mengambil keputusan sendiri.Terdapat beberapa metode pengajaran yang disesuaikan dengan tahap usia anak:
Pada Usia 0-3 tahun anak dapat mengikuti kegiatan di sekolah taman bermain. Apapun metodenya, yangharus diperhatikan ialah hubungan komunikasi guru dengan anak, bagaimana cara guru ituberkomunikasi. Ketika mengajar, sebaiknya guru tidak mendominasi kegiatan anak.
Lebih spesifik, Fase Infancy, pada usia 0-1 tahun ini adalah periode pertama kehidupan sesudah kelahiran ketika individu yang bersangkutan relatif sangat tidak berdaya dan bergantung sekali pada orang tuanya. Istilah ini biasanya diterapkan hanya pada tahun yang pertama. Skinner mengemukakan bahwa fase infancy adalah masa dua tahun pertama setelah kelahiran.
Gibson (1988) mengemukakan ada serangkaian fase dalam perkembangan atensi selama masa infancy. Fase ini bukan merupakan fase yang kaku karena fase-fase tersebut saling tumpang tindih dalam waktu dan situasi. Pada setiap fase ini, anak menggunakan kemampuan-kemampuan motor yang telah dimilikinya untuk mengeksplorasi lingkungan.
Untuk mengetahui perkembangan bahasa anak-anak pra-sekolah, dapat digunakan indeks perkembangan bahasa yang dikembangkan oleh Roger Brown (Desmita, 2006), yang dikenal dengan Mean Length of Utterance (MLU), yaitu sebuah indek perkembangan bahasa yang didasarkan atas jumlah kata dalam kalimat. Ada 5 tahap perkembangan bahasa anak: (Lihat Lampiran: Tabel1)
Cara komunikasi pada masa toddler ( 1-3 tahun )Pada masa ini anak masih belum dapat berbicara/berkomunikasi secara pasih. Jika anak ingin sesuatu, akan memiliki caranya sendiri, seperti : menangis, melempar sesuatu kearah yang diinginkan untuk dicapai. Perkembangan komunikasi pada masa ini dapat ditunjunkkan dengan perkembangan bahasa anak dengan kemampuan mampu memahami ± 10 kata. Usia 2 tahun 200-300 kata dan masih terdengar kata-kata ulangan. Usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai 900 kata dan kata-kata yang digunakan seperti : mengapa, apa, kapan dsb.
Kemudian pada usia 5 tahun anak sebaiknya diberikan kegiatan yang dapat memberi kesempatan pada anak mengobservasi sesuatu.Sebaiknya pendidik tidak melulu mencontohkan lalu anak mengikuti. Tapi, biarkan anak mencoba-coba, misal anak menggambar bunga dengan warna hijau, kuning atau biru. Pendidik dapatmemberikan kosakata baru pada anak dan membiarkan mereka merangkai kalimat.
Usia 6-12 tahun perbanyaklah melatih kemampuan anak bercerita dan mempresentasikan apa yangmereka ketahui. Metode belajar ditekankan pada bagaimana anak berpikir kreatif, misalnya ketikamenjelaskan suatu hal atau benda. Salah satunya dengan metode main maping, yaitu membuat jaringan topik. Misal, minta anak menjelaskan konsep meja dan biarkan anak memaparkan satupersatu pengetahuannya tentang meja mulai dari berbagai bentuk, fungsi sampai jumlah penyangganya.
Pada anak usia pra sekolah, perkembangan bahasa menjadi hal yang sangat penting sebagai indikasi kemampuan verbal yang nantinya berkorelasi dengan daya intelegensi anak pada masa sekolah dasar dan lanjutan. Hal ini diperkuat oleh data Unicef yang menunjukkan, bahwa hampir 70 persen anak yang putus sekolah dari Sekolah Dasar (SD) karena mereka tidak siap untuk berinteraksi dan mengikuti pendidikan SD (Amaliafitri, 2009). Ketidaksiapan interaksi tersebut dikarenakan anak kurang menguasai kemampuan literasi menyeluruh diantaranya berbicara, membaca, dan menulis secara bersamaan yang disebabkan rendahnya penguasaan kosa kata yang teramat banyak jumlahnya. 
Untuk menunjang pendidikan pra sekolah, pemerintah telah menggalakkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan program belajar dan bermain. Namun berdasarkan data Depdiknas, hingga akhir 2008, angka paartisipasi kasar PAUD baru sekitar 50-53% dari 29,8 juta anak. Artinya, separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum meraih layanan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa secara operasional, PAUD masih belum bisa dijangkau secara menyeluruh.
Namun, Jauh berbeda dengan Menurut Piaget dan Vygotsky (dalam Tarigan, 1988), tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:
a.       Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama (0.0 -0.5 Tahun)
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa. Bunyi-bunyian seperti itu dapat ditemui dalam segala bahasa di dunia.
Tahap meraban pertama ini dialami oleh anak berusia 0-5 bulan. Pembagian kelompok usia ini sifatnya umum dan tidak berlaku percis pada setiap anak. Mungkin Anda ingin mengetahui apa saja keterampilan bayi pada tahap ini.Berikut adalah rincian tahapan perkembangan anak usia 0-6 bulan berdasarkan hasil penelitian beberapa ahli yang dikutip oleh Clark(1977). Selain itu juga akan diungkap keterlibatan orang tua pada tahap ini
• 0-2 minggu: anak sudah dapat menghadapkan muka ke arah suara. Meraka sudah dapat membedakan suara manusia dengan suara lainnya, seperti bel, bunyi gemerutuk, dan peluit. Mereka akan berhenti menangis jika mendengar orang berbicara.
• 1-2 bulan: mereka dapat membedakan suku kata , seperti (bu) dan (pa), mereka bisa merespon secara berbeda terhadap kualitas emosional suara manusia. Misalnya suara marah membuat dia menangis, sedangkan suara yang ramah membuat dia tersenyum dan mendekat (seperti suara merpati).
• 3-4 bulan mereka sudah dapat membedakan suara laki-laki dan perempuan.
• 6 bulan: mereka mulai memperhatikan intonasi dan ritme dalam ucapan. Pada tahap ini mereka mulai meraban (mengoceh) dengan suara melodis.

Melihat tahap-tahap perkembangan tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa anak pada tahap meraban satu sudah bisa berkomunikasi walau hanya dengan cara menoleh, menangis atau tersenyum.Dengan demikian orang tua dan anak sudah berkomunikasi dengan baik sebelum anak dapat berbicara. Inisiatif untuk berkomunikasi datangnya dari orang tua (Clark:1977). Orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai komunikator dalam membangun kemampuan berkomunkasi seorang anak, orang tua secara tidak sadar mengajarkan bahasa baik verbal maupun nonverbal sejak dini.

Pada tahap meraban pertama ini, biasanya orang tua mulai memperkenalkan dan memperlihatkan segala sesuatu kepada bayinya, contoh,” Nani sayang, Nani cantik”.Maksudnya Si ibu mengenalkan nama si bayi, biasanya dilakukan berulangulang dengan berbagai cara. Misal, “Lihat! Ayah datang!”, Si Ibu mengarahkan wajah anak kepada ayahnya. Ia ingin mengenalkan konsep ayah kepada anaknya.
Melihat uraian di atas jelas bahwa pada tahap ini perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension (komprehensi) artinya penggunaan bahasa secara pasif (Marat:1983). Komprehensi merupakan elemen bahasa yang dikuasai terlebih dahulu oleh anak sebelum anak bisa memproduksi apa pun yang bermakna. Menurut Altmann (dalam Dardjowidjojo, 2000) bahwa sejak bayi berumur 7 bulan dalam kandungan, seorang bayi telah memiliki sistem pendengaran yang telah berfungsi. Setelah bayi lahir dan mendapatkan masukan dari orang-orang sekitar, dia mengembangkan komprehensi ini lima kali lipat daripada produksinya. Pada hakikatnya komprehensi adalah proses interaktif yang melibatkan berbagai koalisi antara lima faktor, yakni: sintetik, konteks lingkungan, konteks sosial, informasi leksikal dan prosodi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa tidak diturunkan melainkan dapat dikuasai melalui proses pemerolehan, yang harus dipelajari dan ada yang mengajari. Seperti yang sudah dibahas dalam kegiatan belajar sebelumnya bahwa perolehan bahasa anak memerlukan proses pembiasaan yang harus dipelajari seperti halnya tingkah laku yang diperoleh melalui conditioning dan merupakan hasil pengaruh lingkungan (Skinner:1983).
Walaupun bahasa itu tidak diturunkan tetapi manusia memiliki kemampuan kognitif dan kapasitas linguistik tertentu dan juga kapasitas untuk belajar (Marat:1983). Dalam hal ini sekali lagi peran orang tua, keluarga, lingkungan, bahkan pengasuh anak sangat diperlukan dalam proses pengembangan bahasa secara optimal. Jika anak telah melampaui masa ini dengan tidak banyak hambatan maka ia akan melampaui masa berikutnya yang disebut tahap meraban dua, yaitu dari usia sekitar 5/6 bulan sampai 1 tahun.
b.Tahap Meraban Kedua
Pada tahap ini anak mulai aktif artinya tidak sepasif sewaktu ia berada pada tahap meraban pertama. Secara fisik ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan mereka mulai mengasyikan karena mereka mulai aktif memulai komunikasi, kita lihat apa saja yang dapat mereka lakukan pada tahap ini.
• 5-6 bulan
Dari segi komprehensi kemampuan bahasa anak semakin baik dan luas, anak semakin mengerti beberapa makna kata, misal: nama (diri sendiri atau panggilan ayah dan ibunya), larangan, perintah dan ajakan ( misal permainan “ciluk baa”). Hal ini menunjukkan bahwa bayi sudah dapat memahami ujaran orang dewasa. Di samping itu bayi mulai dapat melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat benda dan secara spontan memperlihatkannya kepada orang lain (Clark:1997). Dengan cara ini ada beberapa kemungkinan yang meraka inginkan, misalnya:
- Lihat, ini bagus!”, ingin memperlihatkan sesuatu
- “Ápa ini?!”, ingin mengetahui sesuatu
- “Pegang ini!ïngin meminta orang lain ikut memegang, dan lain-lain.
 Menurut Tarigan (1985) tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang telah disebutkan tadi adalah: ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi, kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap mengoceh ini (babbling) bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah variasinya dan semakin kompleks kombinasinya. Mereka mengkombinasikan vocal dengan konsonan menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata), misal: ma-ma-ma, ba-ba-ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dsb.Ocehan ini tidak memiliki makna, dan ada kemungkinan tidak dipakai lagi setelah anak dapat berbicara (mengucapkan kata atau kalimat). Ocehan ini akan semakin bertambah sehingga anak mampu memproduksi perkataan pertama atau periode satu kata, yang muncul sekitar usia anak satu tahun.
Pada saat si anak mulai aktif mengoceh orang tua juga harus rajin merespon suara dan gerak isyarat anak. Menurut Tarigan (1985), orangtua harus mengumpan balik auditori untuk memelihara vokalisasi anak, maksudnya adalah agar anak tetap aktif meraban. Sebagai langkah awal latihan ialah mengucapkan kata-kata yang bermakna.
Pada periode ini merabannya disertai gerakan-gerakan memperlihatkan barang, misalnya, gerakan-gerakan mengangkat mainan. Hal tersebut harus mendapatakan respon. Anak akan bahagia dan puas jika mendapatkannya. Biasanya, pada tahap ini orang tua mulai membelikan mainan yang dapat dipegang anak. Sebaiknya mainan yang menarik perhatian anak dari segi bentuk dan warna juga tidak membahayakan Si Anak. Dengan demikian seorang ibu yang bijaksana akan memanfaatkan masa ini untuk memperkenalkan nama benda sebanyak mungkin dan berulang-ulang. Dapat Anda bayangkan apabila seorang anak pada tahap ini jarang atau tidak mendapat respon ketika sedang meraban atau Si Ibu tidak pernah mengacuhkan bayinya ketika memperlihatkan sesuatu padanya.
• 7-8 bulan
 Jika tadi kita membicarakan tahap perkembangan bahasa anak umur sekitar 5-6 bulan yang memiliki keterampilan mengoceh dan kombinasi gerakan-gerakan mengangkat benda untuk menarik perhatian orang dewasa, pada masa itu bayi 29 belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku. Sekarang kita akan melihat kemajuan anak sebulan kemudian yaitu usia sekitar 7-8 bulan. Pada tahap ini orang tua sudah bisa mengenalkan hal hal baru bagi anaknya, artinya anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk obyek yang sering diajarkan dan dikenalkan oleh orang tuanya secara berulang-ulang. Orang dewasa biasanya mulai menggunakan gerakan-gerakan isyarat seperti menunjuk. Gerakan ini dilakukan untuk menarik perhatian anak, karena si Ibu ingin menunjukkan sesuatu dan menawarkan sesuatu yang baru dan menarik (Clark,1997).
Kemampuan anak untuk merespon apa yang dikenalkan secara berulangulang pun semakin baik, misal: melambaikan tangan ketika ayahnya atau orang yang dikenalnya akan pergi, beretepuk tangan, menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika mendengar nyanyian,dsb.
Sepertihalnya anak-anak, orang tua pun akan merasa puas dan gembira jika segala usaha untuk mengajari anaknya mendapat respon. Artinya segala usaha orang tua ketika mengatakan sesuatu, menunjukkan atau memperlihatkan sesuatu pada anaknya; mendapat respon dari si anak karena anak faham dan perkembangan bahasanya sesuai dengan perkembangan usianya.
Jika kita perhatikan pada penjelasana-penjelasan sebelumnya bahwa perkembangan bahasa anak cenderung bersifat pasif. Suara-suara yang mereka hasilkan masih berupa ocehan yang belum dapat dipahami. Orang tua masih sangat berperan sebagai inisator dalam berkomunikasi. Orangtua adalah guru bahasa yang paling berharga bagi mereka. Karena tanpa bantuan orang tua, perkembangan bahasa anak dapat terhambat.
.     8 bulan s/d 1 tahun.
Setelah anak melewati periode mengoceh, anak mulai mencoba mengucapkan segmen-segmen fonetik berupa berupa suku kata kemudian baru berupa kata. Misal:bunyi “ bu” kemudian “bubu” dan terakhir baru dapat mengucapkan kata “ibu”. Contoh lain: “pa”, “empah” baru kemudian anak dapat memanggil ayahnya “papa”atau “bapak”.
Pada tahap ini anak sudah dapat berinisiatif memulai komunikasi. Ia selalu menarik perhatian orang dewasa, selain mengoceh ia pun pandai menggunakan bahasa isyarat. Misalnya dengan cara menunjuk atau meraih benda-benda.
Gerakan- gerakan isyarat tersebut (Clark, 1977) mimiliki dua fungsi yaitu untuk mengkomunikasikan sesuatu dan meminta sesuatu atau minta penjelasan, contohnya ketika si anak meraih benda: tujuannya adalah, ia meminta sesuatu atau meminta penjelasan . si anak akan merasa puas jika orang dewasa melihat ke arah benda yang menarik perhatiannya.
Pada tahap ini pun peran orang tua masih sangat besar dalam pemerolehan bahasa pertama anak. Orang tua harus lebih aktif merespon ocehan dan gerakan isyarat anak. Karena kalau orang tua tidak memahami apa yang dimaksud anak, anak akan kecewa dan untuk masa berikutnya anak akan pasif dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Menurut Marat (1983) anak pada periode ini dapat mengucapkan beberapa suku kata yang mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental (kognitif). Dengan kata lain kepandaian anak semakin meningkat. Semakin pandai si anak, pada akhirnya perkembangan meraban kedua telah dicapai. Anak akan mulai belajar mengucapkan kata pada periode berikutnya yang disebut periode/ tahap linguistik.
b.      Tahap Linguistik
Jika pada tahap pralinguistik pemerolehan bahasa anak belum menyerupai bahasa orang dewasa maka pada tahap ini anak mulai bisa mengucapkan bahasa yang menyerupai ujaran orang dewasa. Para ahli psikolinguistik membagi tahap ini ke dalam lima tahapan, yaitu:
• Tahap Linguistik I   : Tahap kalimat satu kata (tahap holofrastik).
• Tahap Linguistik II  : Tahap kalimat dua kata.
• Tahap Linguistik III : Tahap pengembangan tata bahasa.
• Tahap Linguistik IV : Tahap tata bahasa menjelang dewasa/prabahasa.
• Tahap Linguistik V  : Tahap Kompetensi Penuh

Berikutnya kita akan membahas kelima bagian tahap perkembangan bahasa di atas satu persatu.
• Tahap I, tahap holofrastik (tahap linguistik pertama). Sejalan dengan perkembangan biologisnya, perkembangan kebahasaan anak mulai meningkat. Pada usia 1-2 tahun masukan kebahasaan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya semakin banyak, misal: nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan, kendaraan, perabot rumah tangga, jenis-jenis pekerjaan dsb. Faktorfaktor masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya.
 Tahap ini adalah tahap dimana anak sudah mulai mengucapkan satu kata. Menurut Tarigan (1985). Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Contohnya: kata “asi “ (maksudnya nasi ) dapat berarti dia ingin makan nasi, dia sudah makan nasi,nasi ini tidak enak atau 32 apakah ibu mau makan nasi? dsb.
Agar kita dapat memahami maksud yang sesungguhnya, kita harus mencermati keadaan anak dan lingkungan pada saat ucapan satu kata itu diucapkan. Orang dewasa harus faham bahwa pada tahap holofrasa ini, ingatan dan alat ucap anak belum cukup matang untuk mengucapkan satu kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih.
 Tahap holofrase ini dialami oleh anak normal yang berusia sekitar 1-2 tahun. Waktu berakhirnya tahap ini tidak sama pada setiap anak. Ada anak yang lebih cepat mengakhirinya, tetapi ada pula yang sampai umur anak 3 tahun.
Pada tahap ini gerakan fisik seperti menyentuh, menunjuk, mengangkat benda dikombinasikan dengan satu kata. Seperti halnya gerak isyarat, kata pertama yang dipergunakan bertujuan untuk memberi komentar terhadap objek atau kejadian di dalam lingkungannya. Satu kata itu dapat berupa, perintah, pemberitahuan, penolakan, pertanyaan, dan lain-lain. Di samping itu menurut Clark (1977) anak berumur 1 tahun menggunakan bahasa isyarat dengan lebih komunikatif. Fungsi gerak isyarat dan kata manfaatnya bagi anak itu sebanding. Dengan kata lain, kata dan gerak itu sama pentingnya bagi anak pada tahap holofrasa ini.
Ada pun kata-kata pertama yang diucapkan berupa objek atau kejadian yang sering ia dengar dan ia lihat. Contoh kata-kata pertama yang biasanya dikuasi anak adalah: pipis (buang air kecil), mamam atau maem (makan), dadah sambil malambaikan tangan, mah (mamah), pak (bapak), bo (tidur). Kata-kata yang biasanya digunakan untuk bertanya adalah:apa, kenapa, sedangkan kata-kata perintah: sini, sana, lihat; dengan pengucapan yang tidak sama untuk tiap anak . Kata-kata yang digunakan untuk meminta adalah: lagi, mau, dan minta (inipun dengan pengucapan yang berbeda untuk tiap anak).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada tahap ini anak mengalami kesulitan mengucapkan bunyi tertentu seperti r, s, k, j dan t. oleh karena itu pengucapan mereka beragam dan tidak sama percis dengan ucapan orang dewasa. Anak yang mencapai usia 1 tahun 6 bulan belum dapat aktif berbicara dalam suatu percakapan.
Setelah anak mencapai usia 1 tahun 6 bulan ia mulai aktif diajak bercakap-cakap oleh orang dewasa, mereka sudah memahami kapan giliran mereka berbicara dalam suatu percakapan .Inisiatif dalam percakapan masih dipegang oleh orang dewasa dan ketika anak menjawab pertanyaan dia tidak menggunakan lebih dari satu kata dan jawabannya masih disertai gerak isyarat.
Kemajuan anak setelah mencapai usia satu tahun ini pesat sekali. Setelah anak mampu mengucapkan satu kata, lalu dapat diajak berperan dalam suatu percakapan, maka perkembangan baru lainnya adalah si anak dapat melontarkan informasi baru ketika diajak bercakap-cakap. Dikatakan informasi baru karena kata yang ia ucapkan sebelumnya tidak diucapkan oleh Si Penanya. Karena pada keterampilan sebelumnya ia hanya membeo saja. Inilah contoh ketika anak bisa melontarkan informasi baru, atau dengan kata lain ia mengucapkan kata tidak meniru.
Pada tahap ini orang tua kadang dikagetkan olaeh si anak karena tibatiba saja si anak mengatakan sesuatu yang kita anggap dia tidak bisa sebelumnya. Misalnya saja ketika si ibu sedang memasak lau si anak melihat api kompor menyala, tiba-tiba si anak mengatakan api! Atau panas!.
 Kemajuan pada tahap satu kata diantaranya adalah mampu mengucapkan satu kata, ucapan satu kata dikombinasikan dengan gerakan isyarat, lalu ia sudah biasa diajak bercakap-cakap: ia mengerti kapan gilirannya berbicara lalu ia dapat melontarkan informasi baru dalam ucapannya. Itu artinta ia mulai mengurangi cara menirukan kata. Setelah melampaui usia 2 tahun banyak lagi keterampilan yang dia kuasai.
• Tahap Linguistik II: Kalimat Dua Kata Seperti telah dijelaskan di atas, anak-anak telah memahami terlebih dahulu kalimat-kalimat sebelum dia dapat mengucapkan satu kata. Jadi pemahaman lebih dahulu daripada produksi bahasa. Tahap linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang hari ulang tahun kedua. Kanak-kanak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat (Tarigan, 1980). Misal:mama masak, adik minum, papa pigi (ayah pergi, baju kakak dsb. Ucapan-ucapan ini pun, mula-mula tidak jelas seperti”di “ maksudnya adik, kemudian anak berhenti sejenak, lalu melanjutkan “num”maksudnya minum. Maka berikutnya muncul kalimat, “adik minum”.
Perlu Anda ketahui bahwa keterampilan anak pada akhir tahap ini makin luar biasa. Komunikasi yang ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu sama seperti perkembangan awal yaitu: sini, sana, lihat, itu, ini, lagi, mau dan minta.
Selain keterampilan mengucapkan dua kata , ternyata pada periode ini si anak terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitas anak. Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.
Setelah tahap dua kata ini anak masih mengalami beberapa perkembangan penting yang patut kita pahami. Perkembangan berikutnya yang disebut dengan pengembangan tata bahasa.
c.       Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa

Tahap ini dimulai sekitar usia anak 2,6 tahun, tetapi ada juga sebagian anak yang memasuki tahap ini ketika memasuki usia 2,0 tahun, bahkan ada juga anak yang lambat yaitu ketika anak berumur 3,0 tahun. Pada umumnya pada tahap ini, anak-anak telah mulai menggunakan elemen-elemen tata bahasa yang lebih rumit, seperti: polapola kalimat sederhana, kata-kata tugas (di,ke,dari, ini, itu dsb.), penjamakan, pengimbuhan, terutama awalan dan akhiran yang mudah dan bentuknya sederhana (Hartati, 2000). Meskipun demikian, kalimat-kalimat yang dihasilkan anak masih seperti bentuk telegram atau dalam bahasa Inggrisnya “telegraphic utterances”(ucapanucapan telegram) contoh: “ini adi nani, kan ?” ( adi maksudnya adik),”mama pigi ke pasar”, “nani mau mandi dulu”, dsb.
Perkembangan anak pada tahap ini makin luar biasa. Marat (1983) menyebutkan perkembangan ini dengan kalimat lebih dari dua kata dan periode diferensiasi. Tahapini pada umunya dialami oleh anak berusia sekitar 2 ½ tahun-5 tahun. Sebenarnya perkembangan bahasa anak pada tahap ini bervariasi. Hal ini bergantung pada perkembangan-perkembangan sebelumnya yang dialami oleh si anak. Umumnya pada tahap ini anak sudah mulai dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya dan mulai aktif memulai percakapan. Fase sebelumnya sampai tahap perkembangan 2 kata anak lebih banyak bergaul dengan orang tuanya. Sedangkan pada tahap ini pergaulan anak makin luas yang berarti menambah pengetahuan dan menambah perbendaharaan kata. Mereka dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya, teman yang lebih besar, orang dewasa, dapat menyimak radio dan televisi.
Menurut Marat (1983) ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini:
 - Pada akhir periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahasa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
 - Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak seperti: pengertian waktu, ruang, dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
 - Mereka mulai dapat membedakan kata kerja (contoh: minum, makan, masak, pergi, pulang, mandi), dan kata-kata benda (buku, baju, gelas, nasi, susu) dan sudah dapat mempergunakan kata depan, (di, ke, dari), kata ganti ( aku, saya) dan kata kerja bantu (tidak, bukan, mau, sudah dsb.).
- Fungsi bahasa untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi; anak sudah dapat mengadakan konversasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
- Persepsi anak dan pengalamannya tentang duania luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, memberi tahu, dan lain-lain.
 - Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang pesat berkembang.

Seperti telah dijelaskan di atas bahasa anak-anak pada tahap ini dilukiskan sebagai bahasa telegaram, karena pengetahuan kata-kata tugas yang masih terbatas, menyebabkan ucapan anak-anak itu berbunyi seperti telegram yang ditulis oleh orang dewasa (Tarigan,1985). Anak membuat pola pesan dengan cara yang sependek mungkin seperti halnya orang dewasa mengirim telegram.
 Menurut Marat (1983) yang dihilangkan pada bahasa telegram biasanya sebagai berikut:
- kata ganti orang (nya, mu, ku)
- kata kerja bantu (dengan baik, dengan cepat, dll).
- Kata sambung (dan, juga, serta, dll).
- Kata sandang (si, sang) - Kata Bantu (akan, telah)
- Kata depan (ini, itu dll)
- Imbuhan (awalan dan akhiran)

Kata-kata di atas disebut kata-kata fungsi (function words) Walaupun kata-kata fungsi tersebut dihilangkan biasanya tidak menghilangkan makna.
Seperti yang sudah dijelaskan terdahulu, bahwa keterampilan anak pada tahap ini bervariasi, ada kemungkinan sebagian dari mereka sudah dapat menambahkan akhiran dan kata-kata fungsi dalam ujaran mereka. Anak-anak dari kota besar memiliki kecenderungan menggunakan akhiran in dalam pengucapan kata kerja yang seharusnya berakhiran kan. Tampaknya mereka lebih mudah menggunakan akhiran in daripada kan. Contoh, “bajunya harus diginiin” ,“tolong beliin balon”, “siniin bonekanya”dsb.
d.      Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Menjelang Dewasa/Pradewasa
Tahap perkembangan bahasa anak yan cepat ini biasanya dialami oleh anak yang sudah berumur antara 4-5 tahun. Pada tahap ini anak-anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Misal, kalimat majemuk sederhana seperti di bawah ini:
 -mau nonton sambil makan keripik
- aku di sini, kakak di sana
- mama beli sayur dan kerupuk
- ani lihat kakek dan nenek di jalan
- ayo nyanyi dan nari,
 - kakak, adik dari mana
Dari contoh kalimat-kalimat di atas, tampak anak sudah “terampil” bercakapcakap. Kemampuan menghasilkan kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya. Kemunculan kalimatkalimat rumit di atas menandakan adanya peningkatan kemampuan kebahasaan anak. Menurut Tarigan (1985),walaupun anak-anak sudah dianggap mampu menyusun kalimat kompleks, tetapi mereka masih membuat kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut dalam hal menyusun kalimat, memilih kata dan imbuhan yang tepat. Untuk memperbaikinya mereka harus banyak berlatih bercakap-cakap dengan orang tua atau guru sebagai modelnya.
Pada tahap ini anak sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi suara. Walaupun mungkin Anda masih menemukan sebagian kecil anak yang tidak dapat mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Sekali lagi orang tua dan guru sangatlah berperan untuk membantu anak memperkaya kosa kata. Menurut Clark (1977) pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan ide ke dalam bahasa. Maksudnya adalah Si Anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak memiliki ketebatasan-keterbatasan seperti: pengusaan struktur tata bahasa, kosa kata dan imbuhan. Pada tahap ini anak-anak sulit mengucapkan kata-kata yang tidak muncul dari hati nuraninya, tetapi pada dasarnya anak-anak senang mempelajari sesuatu.
Lambat laun mereka dapat mempelajari bahwa jika bersalah mereka harus minta maaf dan mengucapkan terima kasih bila ditolong atau diberi sesuatu. Sebenarnya anak itu tidak mau mempergunakan kata-kata yang menurutnya tidak bermakna (Clark, 1997). Jadi jika kata-kata seperti maaf, terima kasih, nada bicara tertentu, dan lain-lain yang tidak difahami/ tidak ada artinya bagi mereka atau tidak penting bagi anak-anak, maka sulitlah bagi mereka untuk mengucapkannya. Di sinilah pentingnya peranan dan kesabaran orang tua, guru, atau pengasuh anak untuk membimbing dan memberi contoh penggunaan kata-kata yang fungsional , kontekstual dan menyenangkan bagi anak. Untuk memperkaya kebahasaan anak orang tua atau guru dapat mulai dengan mendongeng, bernyanyi atau bermain bersama anak di samping sesering mungkin mengajaknya bercakap-cakap.
e.       Tahap Linguistik V: Kompetensi penuh
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap yang disebut sebagai kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara memadai. Walau demikian, perbendaharaan katanya masih terbatas tetapi terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.
Berikutnya anak memasuki usia sekolah dasar. Selama periode ini, anak-anak dihadapkan pada tugas utama mempelajari bahasa tulis. Hal ini dimungkinkan setelah anak-anak menguasai bahasa lisan. Perkembangan bahasa anak pada periode usia sekolah dasar ini meningkat dari bahasa lisan ke bahasa tulis. Kemampuan mereka menggunakan bahasa berkembang dengan adanya pemerolehan bahasa tulis atau written language acquisition. Bahasa yang diperoleh dalam hal ini adalah bahasa yang 40 ditulis oleh penutur bahasa tersebut, dalam hal ini guru atau penulis. Jadi anak mulai mengenal media lain pemerolehan bahasa yaitu tulisan, selain pemerolehan bahasa lisan pada masa awal kehidupannya.
Menurut Tarigan (1988) salah satu perluasan bahasa sebagai alat komunikasi yang harus mendapat perhatian khusus di sekolah dasar adalah pengembangan baca tulis (melek huruf). Perkembangan baca tulis anak akan menunjang serta memperluas pengungkapan maksud-maksud pribadi Si Anak, misal melalui penulisan catatan harian, menulis surat, jadwal harian dsb. Dengan demikian perkembangan baca tulis di sekolah dasar memberikan cara-cara yang mantap menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan orang lain dan juga dengan dirinya sendiri.
Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Periode ini menurut Gielson (1985) merupkan umur yang sensitif untuk belajar bahasa. Remaja menggunakan gaya bahasa yang khas dalam berbahasa, sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri.Akhirnya pada usia dewasa terjadi perbedaan-perbedaan yang sangat besar antara individu yang satu dan yang lain dalam hal perkembangan bahasanya. Hal ini bergantung pada tingkat pendidikan, peranan dalam masyarakat dan jenis pekerjaan. saja dibahas.
Proses membaca, seperti yang di jelaskan pada bab sebelumnya, merupakan bagian dari kebahasaan. Menurut. Burns, dkk. (Farida Ramli 2007:12) mengungkapkan bahwa membaca merupakan proses yang melibatkan sejumlah kegiatan fisik dan mental.
Proses membaca terdiri dari sembilan aspek, yaitu sensori, perceptual, urutan pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan gagasan. Proses membaca dimulai dengan sensori visual yang diperoleh melalui pengungkapan simbol-simbol grafis melalui indra penglihatannya. Aspek urutan dalam proses membaca merupakan kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linier. Pengalaman merupakan aspek penting dalam proses membaca. Anak yang memiliki pengalaman yang banyak akan mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan pemahaman kosa-kata dalam membaca. Pengalaman konkret dan pengalaman tidak langsung akan meningkatkan perkembangan konseptual anak. Aspek afektif 12 merupakan proses membaca yang berkenaan dengan kegiatan memusatkan perhatian..
Dalam belajar membaca anak usia dini terdiri dari beberapa komponen. Menurut Budihasti yang dikutip oleh Reni Akbar Hawadi (2001:37) menyebutkan beberapa komponen membaca, yaitu sebagai berikut:
a. Pengenalan kata-kata Disini penekanannya pada pengenalan persamaan antara apa yang diucapkan dan apa yang ditulis sebagai simbol.
b. Pengertian Selain mengenali simbol dan dapat mengucapkan, dalam membaca yang terpenting adalah mengerti apa yang dibaca.
c. Reaksi Diharapkan ada reaksi terhadap hal yang dibaca.
d. Penggabungan Asimilasi ide-ide yang dihadapkan dari mereka dengan pengalaman membaca dimasa lalu.


3. Kemampuan Membaca Permulaan Anak Usia Dini
 Masri Sareb (2008:4) mengungkapkan bahwa membaca permulaan menekankan pengkondisian siswa untuk masuk dan mengenal bahan bacaan. Belum sampai pada pemahaman yang mendalam akan materi bacaan, apalagi dituntut untuk menguasai materi secara menyeluruh, lalu menyampaikan hasil pemerolehan dari membacanya.
Pada masa prasekolah, anak distimulus untuk dapat membaca permulaan. Menurut Steinberg (Ahmad Susanto, 2011: 83) membaca permulaan adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah. Program ini merupakan perharian pada perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam konteks pribadi anak-anak dan bahan-bahan yang diberikan melalui permainan dan kegiatan yang menarik sebagai perantaran pembelajaran.
Anderson (Nurbiana Dhieni, dkk 2008:5.5) mengungkapkan bahwa membaca permulaan adalah membaca yang diajarkan secara terpadu, yang menitik beratkan pada pengenalan hurur dan kata, menghubungkannya dengan bunyi.
Sedangkan menurut Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (1996: 50) membaca permulaan diberikan secara bertahap, yakni pramembaca dan membaca. Pada tahap pramembaca, kepada anak diajarkan: 1) sikap duduk yang baik pada waktu membaca; 2) cara meletakkan buku di meja; 3) cara memegang buku; 4) cara membuka dan membalik halaman buku; dan 5) melihat dan memperhatikan tulisan. Pembelajaran membaca permulaan dititik beratkan pada aspek-aspek yang bersifat teknis seperti ketepatan menyuarakan tulisan, lafal dan intonasi yang wajar, kelancaran dan kejelasan suara.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan membaca permulaan adalah membaca yang dilaksanakan di TK yang dilakukan secara terprogram kepada anak prasekolah, dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf dan lambang-lambang tulisan yang menitik beratkan pada aspek ketepatan menyuarakan tulisan, lafal dan intonasi yang wajar, kelancaran dan kejelasan suara.


 4. Tahap Perkembangan Membaca
 Kemampuan membaca pada anak berlangsung pada beberapa tahap. Menurut Cachrane Efal (Nurbiana Dhieni (2008: 5.12) perkembangan kemampuan dasar membaca anak usia 4-6 tahun berlangsung dalam lima tahap, yakni : (a) tahap fantasi, (b) tahap pembentukan konsep diri, (c) tahap membaca gemar, (d) pengenalan bacaan, (e) tahap membaca lancar.
Perkembangan kemampuan membaca anak dapat dikategorikan ke dalam beberapa tahap. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2009: 8-9) berdasarkan penelitian yang dilakukan dibarat, perkembangan membaca anak-anak dapat dikatagorikan ke dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut:
1) Tahap Magic Pada tahap ini belajar tentang guna buku, mulai berpikir bahwa buku adalah sesuatu yang penting. Anak melihatlihat buku, membawa-bawa buku, dan sering memiliki buku favorit.
2) Tahap Konsep Diri Anak melihat diri sendiri sebagai pembaca, mulai terlihat dalam kegiatan “pura-pura membaca”, mengambil makna dari gambar, membahasakan buku walaupun tidak cocok dengan teks yang ada di dalamnya.
3) Tahap Membaca Antara Anak-anak memiliki kesadaran terhadap bahan cetak (print). Mereka mungkin memilih kata yang sudah dikenal, mencatat kata-kata yang berkaitan dengan dirinya, dapat membaca ulang cerita yang telah ditulis, dapat membaca puisi. Anak-anak mungkin mempercayai setiap silabel sebagai kata dan dapat menjadi frustasi ketika mencoba mencocokkan bunyi dan tulisan. Pada tahap ini, anak mulai mengenali alfabet.
4) Tahap Lepas Landas Pada tahap ini anak-anak mulai menggunakan tiga sistem tanda/ciri yakni grafofonik, semantik, dan sintaksis. Mereka mulai bergairah membaca, mulai mengenal huruf dari konteks, memperhatikan lingkungan huruf cetak dan membaca apa pun di sekitarnya, seperti tulisan pada kemasan, tanda-tanda. Resiko bahasa dari tiap tahap ini 15 adalah jika anak diberikan terlalu banyak perhatian pada setiap huruf.
5) Tahap Independen Anak dapat membaca buku yang tidak dikenal secara mandiri, mengkonstruksikan makna dari huruf dan dari pengalaman sebelumnya dan isyarat penulis. Anak-anak dapat membuat perkiraan tentang materi bacaan. Materi berhubungan langsung dengan pengalaman yang paling mudah untuk dibaca, tetapi anak-anak dapat memahami struktur dan genre yang dikenal, serta materi ekpositoris yang umum.
 Sabarti Akhadiah, dkk (1993:11) yang mengungkapkan bahwa pengajaran membaca permulaan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut untuk dapat menyuarakan huruf, suku kata, kata dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan.
Kemampuan membaca anak berlangsung pada beberapa tahap perkembangan. Menurut Steinberg (Ahmad Susanto 2011:90) bahwa, kemampuan membaca anak usia dini dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu sebagai berikut:
a) Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan Pada tahap ini, anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari bahwa buku ini penting, melihat-lihat buku dan membalik-balik buku kadang-kadang anak membawa buku kemana-mana tempat kesenangannya.
b) Tahap membaca gambar Anak usia TK sudah bisa memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, 16 memberi makna gambar, membaca buku dengan menggunakan bahasa buku walaupun tidak cocok dengan tulisannya. Anak TK sudah menyadari bahwa buku sebuah buku memiliki karakteristik khusus, seperti judul, halaman, huruf, kata dan kalimat serta tanda baca walaupun anak belum faham semuanya.
c) Tahap pengenalan bacaan Pada tahap ini anak TK telah dapat menggunakan tiga sistem bahasa, seperti fonem (bunyi huruf), semantik (arti kata), dan sintaksis (aturan kata atau kalimat) secara bersama-sama. Anak yang sudah tertarik pada bahan bacaan mulai mengingat kembali bentuk huruf dan konteksnya. Anak mulai mengenal tanda-tanda yang ada pada benda-benda di lingkungannya.
d) Tahap membaca lancar Pada tahap ini, anak sudah dapat membaca secara lancar berbagai jenis buku yang berbeda dan bahan-bahan yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas tentang tahap membaca dari dua pendapat diatas sebenarnya hampir sama sehingga dapat disimpulkan, bahwa ada beberapa tahap membaca yang dapat distimulus agar anak dapat membaca yaitu tahap magic, tahap konsep diri, tahap pembaca antara, tahap lepas landas, tahap independen.
Burhan Nurgiyantoro (2010:391) yang menyatakan bahwa kemampuan membaca anak adalah sebagai berikut: kelancaran pengungkapan, ketepatan struktur kalimat, dan kebermaknaan penuturan. Dalam penelitian ini peneliti mengacu pendapat Burhan Nurgiyantoro yang digunakan sebagai pedoman pembuatan rubrik penilaian kemampuan membaca permulaan anak.
Dalam mengajarkan membaca harus memperhatikan aspek-aspek perkembangan anak. Menurut Ahmad Rofi’uddin (1998:50) pengajaran membaca diarahkan pada aspek-aspek:
(1) Pengembangan aspek sosial anak, yaitu : kemampuan bekerja sama, percaya diri, pengendalan diri, kestabilan emosi, dan rasa tanggung jawab.
(2) Pengembangan fisik, yaitu pengaturan gerak motorik, koordinasi gerak mata dan tangan.
(3) Perkembangan kognitif, yaitu membedakan bunyi, huruf,   meng-hubungkan kata dan makna.
Rubin (Ahmad Rofi’uddin 1998:57-61) mengemukakan bahwa pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran yang didasarkan pada kebutuhan anak dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasai anak. Kegiatan yang dilakukan dalam pengajaran membaca antara lain sebagai berikut:
 (a) Peningkatan Ucapan Pada kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan anak mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Anak yang mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi tertentu anak menghadapi kesulitan dalam membaca. Bunyi-bunyi yang sulit diucapkan anak bunyi tersebut perlu dilatih secara terpisah.
(b) Kesadaran Fonemik ( Bunyi) Pada kegiatan ini difokuskan untuk menyadarkan anak bahwa kata dibentuk oleh fonem atau bunyi yang membedakan makna.
(c) Hubungan antara Bunyi-huruf Syarat utama untuk dapat membaca adalah mengetahui tentang hubungan bunyi-bunyi. Anak yang mengalami kesulitan dalam hal hubungan bunyihuruf maka pengajaranya secara terpisah.
(d) Membedakan Bunyi-bunyi Membedakan bunyi-bunyi merupakan kemampuan yang penting dalam pemerolehan bahasa, khususnya membaca.
(e) Kemampuan Mengingat Kemampuan mengingat yang dimaksud lebih mengarah pada kemampuan untuk menilai apakah dua bunyi atau lebih itu sama atau berbeda.
(f) Membedakan huruf Membedakan huruf adalah kemampuan membedakan huruf-huruf (lambang bunyi). Jika anak masih kesulitan membedakan huruf, maka anak belum siap membaca.
(g) Orientasi dari Kiri ke Kanan Anak perlu disadarkan bahwa kegiatan membaca dalam bahasa indonesia menggunakan sistem dari kiri kekanan. Kesadaran ini perlu ditanamkan pada anak “kidal”.
(h) Keterampilan Pemahaman Anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan kognitifnya juga mengalami kesulitan dalam membaca, sebab membaca pada dasarnya merupakan kegiatan berpikir. Perlu disadari bahwa kegiatan pemahaman tidak harus menunggu sampai lancar membaca.
(i) Penguasaan Kosa Kata Pengenalan kata merupakan proses yang melibatkan kemampuan mengidentifikasi simbol tulisan, mengucapkan dan menghubungkan dengan makna.
Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (1996:51) menyatakan bahwa materi yang diajarkan dalam membaca permulaan adalah:
(i) Lafal dan intonasi kata dan kalimat sederhana.
(ii) Huruf-huruf yang banyak digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa (huruf-huruf diperkenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf),
(iii) Kata-kata baru yang bermakna (menggunakan huruf-huruf yang sudah dikenal),misalnya: toko, ubi, boneka, mata, tamu.
(iv) Lafal dan intonasi kata yang sudah dikenal dan kata baru (huruf yangdiperkenalkan 10 sampai 20 huruf).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran membaca harus didasarkan pada kebutuhan dan mempertimbangkan kemampuan anak agar pembelajaran membaca dapat terlaksana dengan apa yang diharapkan.
Pemetaan terhadap kemampuan menulis umumnya dapat di lakukan pada anak preschool. Menurut Webster dalam Atkinson (2009: 49) menulis bagi anak usia dini usia 5-6 tahun diartikan sebagai suatu kegiatan membuat pola atau menuliskan kata-kata, huruf-huruf atau pun simbol-simbol pada suatu permukaan dengan memotong, mengukur atau menandai dengan pena Kegunaan menulis bagi para siswa adalah untuk menyalin, mencatat dan mengerjakan sebagian tugas sekolah. Tanpa memiliki kemampuan untuk menulis, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu menulis harus diajarkan pada anak sejak usia PAUD dan TK, karena akan mempersiapkan kemampuan untuk memasuki usia sekolah dasar (SD) awal.
Menurut Jamaris dalam Susanto (2011: 92) perkembangan kemampuan menulis anak terdiri dari 5 (lima) tahapan, yaitu:
(1) Tahap mencoret: anak mulai belajar tentang bahasa tulisan dan bagaiman mengajarkan tulisan ini;
 (2) Tahap pengulangan secara linier: anak berfikir bahwa suatu kata merujuk pada sesuatu yang besar dan mempunyai tali yang panjang;
(3) Tahap menulis secara acak: anak sudah dapat mengubah tulisan menjadi kata yang mengandung pesan;
(4) Pada fase ini berbagai kata yang mengandung akhiran yang sama mulia dihadirkan dengan kata dan tulisan; dan
(5) Tahap menulis kalimat pendek: kalimat yang ditulis anak berupa subjek dan predikat.
Tahapan perkembangan menulis tersebut dapat berkembang secara baik apabila kegiatan menulis dapat dilakukan dengan anak atas keinginan sendiri. Berdasarkan pendapat Leonhard (2005: 40-53), cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru untuk menumbuhkan keinginan menulis terhadap anak tersebut dapat dilakukan dengan jalan:
(1) Jangan berusaha mengendalikan perasaan anak;
(2) Mendengarkan anak ketika ia berbicara;
 (3) Ajari anak untuk dapat menghargai pendapat orang lain;
(4) Ajaklah anak untuk terlibat dalam sebuah permainan yang imajinatif;
(5) Berikan dorongan terhadap apapun hasil dari bentuk tulisan anak;
(6) Sediakanlah lebih banyak kertas kosong bagi anak;
(7) sediakan lebih banyak peralatan untuk menulis;
(8) Mintaklah anak untuk menceritakan apa yang ia tulis;
(9) Letakkan tulisan awal anak pada tempat yang mudah ia lihat; dan
(10) berikan mereka kaset lagu serta bacakanlah cerita dan puisi.
 Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan keinginan menulis anak menurut Depdiknas (2000: 178) diantaranya adalah:
(1) Prinsip penggunaan tanda atau simbol: guru memberi kesempatan yang banyak pada anak untuk melatih kelenturan motorik halus anak;
(2) Prinsip pengulangan: memberikan latihan pengulangan;
(3) Prinsip keluwesan: guru memperkenalkan tulisan 11 pertama kali pada anak berupa simbol atau tanda yang dekat dan dikenal anak;
(4) Prinsip pengungkapan: memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan berbagai pengalamannya berkaitan dengan tulisan yang telah dibuatnya;
(5) Prinsip mencontoh: guru sering mengulang berbagai contoh tulisan atau kata dengan konteks yang sama;
(6) Prinsip penguatan: guru memberikan penguatan berupa penghargaan atau pujian terhadap hasil tulisan anak.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap kemampuan menulis yang telah dimiliki oleh anak akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapa perkembangan. Normalnya, semakin bertambah usia maka perkembangan kemampuan menulis anak akan semakin meningkat. Untuk mengembangkan kemampuan dan menumbuhkan keinginan anak menulis, maka orang tua dan guru harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam pelaksanaan kegiatan menulis tersebut.
Lalu, kemudian muncul opsi; menulis dengan Tangan atau Menulis Permulaan Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Abdurrahman (2012: 180-186), pelajaran menulis tersebut menyangkut 3 (tiga) hal, yaitu: menulis dengan tangan atau menulis permulaan; mengeja; dan menulis ekspresif. Kemampuan menulis yang akan dibahas secara mendalam dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis permulaan atau menulis dengan tangan anak kesulitan belajar menulis.
 Kemampuan menulis permulaan atau menulis dengan tangan telah diajarkan sejak awal masuk sekolah, karena kemampuan ini merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang akan dipelajari. Lerner dalam Abdurrahman (2012: 181) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis, yaitu: motorik; perilaku; persepsi; memori; kemampuan melaksanakan cross modal; penggunaan tangan yang dominan dan kemampuan memahami instruksi.
Sejalan dengan hal tersebut, Mulyanti (2013: 65) menyebutkan 2 (dua) hal penting yang harus diperhatikan sebelum anak diajarkan menulis, yaitu:
(1) Kematangan dan kesiapan fungsi motorik: apabila kemampuan memegang benda di antara ibu jari dan jari-jari tangan lain sudah meningkat, maka anak dapat diajarkan menulis huruf A-B-C; dan
(2) Pemahaman atau penguasaan anak terhadap konsep bahasa atau simbol-simbol: anak siap dilatih untuk menulis apabila sudah bisa membedakan mana huruf B dan P.
Kesulitan belajar menulis permulaan atau menulis dengan tangan ini sering terkait dengan cara anak memegang pensil. Hornsby dalam Abdurrahman (2012: 182) menyebutkan 4 (empat) macam cara anak memegang pensil yang dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu:
(1) Sudut pensil terlalu besar;
(2) Sudut pensil terlalu kecil;
(3) Menggenggam pensil (seperti mau 13 meninju) dan
(4) Menyangkutkan pensil di tangan atau menyeret (khas bagi anak kidal).
Ada 2 (dua) pendapat tentang bentuk tulisan yang harus dipelajari terlebih dahulu pada awal anak menulis. Pendapat pertama dikemukakan oleh Hagin dalam Abdurrahman (2012: 182-183) bahwa anak perlu diajarkan menulis huruf cetak terlebih dahulu pada awal belajar menulis. Hal tersebut disebabkan oleh:
(1) Huruf cetak bentuknya sederhana;
(2) Buku-buku umumnya menggunakan huruf cetak;
(3) Tulisan lebih mudah dibaca;
(4) Digunakan untuk kehidupan sehari-hari; dan
(5) Kata-kata yang ditulis lebih mudah dieja karena huruf-huruf tersebut berdiri sendiri.
Pendapat kedua dikemukakan oleh Abdurrahman (2012: 183) bahwa anak harus diajarkan menulis dengan huruf sambung terlebih dahulu. Adapun alasan dari pendapat tersebut adalah:
(1) Tulisan sambung memudahkan anak untuk mengenal katakata sebagai satu kesatuan;
(2) Tidak memungkinkan anak menulis terbalik-balik; dan
(3) Menulis dengan huruf sambung lebih cepat karena tidak ada gerakan pensil yang terhenti untuk setiap hurufnya.
Berdasarkan uraian di atas, kemampuan menulis permulaan atau menulis dengan tangan anak usia dini dapat diajarkan pada saat fungsi motorik dan kematangan motorik anak sudah berjalan dengan baik. Selain itu anak juga harus memahami dan menguasai simbol-simbol serta konsep bahasa lainnya. Bentuk tulisan yang dipelajari pada awalanak belajar menulis dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu menggunakan huruf cetak atau huruf sambung terlebih dahulu.  
Adapun beberapa Program untuk Mengembangkan Kemampuan Menulis Permulaan atau Menulis dengan Tangan. Namun tetaplah Kesabaran dan pengertian orang tua serta guru sangat diperlukan agar anak dapat keluar dari masalah kesulitan belajar menulis.
Menurut 20 Abdurrahman (2012: 42), layanan yang dapat diberikan terhadap anak kesulitan menulis permulaan atau menulis dengan tangan adalah: (1) Melakukan assessment terhadap kemampuan menulis: terdiri dari assessment formal dengan basic school skills inventory-diagnostik untuk anak usia 4-7,5 tahun dan informal dengan observasi serta melakukan analisis pola-pola tulisan anak (bentuk huruf, ukuran, proporsional, dan kesejajaran, kualitas garis, jarak huruf, kemiringan huruf, dan kecepatan menulis); dan (2) Perbaikan terhadap kesalahan anak dalam menulis dilakukan melalui pelajaran remidi yang sesuai dengan tipe kesalahan.
Ada 15 macam aktivitas menurut Lerner dalam Abdurrahman (2012: 192) yang dapat digunakan untuk membantu anak berkesulitan belajar menulis permulaan atau menulis dengan tangan ini, yaitu:
a) Aktivitas Menggunakan Papan Tulis: dilakukan sebelum pelajaran menulis yang sesungguhnya. Kegunaan aktivitas ini adalah untuk mematangkan motorik kasar, motorik halus, dan koordinasi matatangan yang merupakan keterampilan prasyarat dalam belajar menulis.
b) Bahan-Bahan Lain untuk Latihan Gerakan Menulis: kertas yang ditempel pada papan atau dengan menggunakan bak pasir sehingga anak dapat berlatih membuat angka, huruf, atau bentuk-bentuk geometri.
 c) Posisi: sediakan kursi yang nyaman dan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang. Kedua tangan anak diletakkan di atas meja, tangan yang satu untuk menulis dan tangan yang lain untuk memegang kertas bagian atas.
d) Kertas: posisi kertas untuk menulis cetak sejajar dengan posisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak yang menggunakan tangan kanan dan sebaliknya bagi anak yang menggunakan tangan kiri atau kidal. Agar kertas tidak bergerak, dapat direkat dengan selotip.
 e) Memegang pensil: ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah pensil, dan pensil dipegang agak sedikit di atas bagian yang diraut.
f) Kertas Stensil dan Karbon: Letakkan kertas polos di atas meja, letakkan karbon di atasnya, dan kemudian letakkan kertas stensil bergambar di atas karbon tersebut, diklip dan selanjutnya anak diminta untuk mengikuti gambar dengan pensil.
g) Menjiplak: buat bentuk atau tulisan dengan warna hitam tebal di atas kertas yang agak tebal, letakkan di atasnya selembar kertas tipis dan suruh anak menjiplak bentuk atau tulisan tersebut.
h) Menggambar di Antara Dua Garis: anak diberikan selembar kertas bergaris dan diminta membuat “jalan” yang mengikuti atau memotong garis-garis tersebut. Selanjutnya, anak diminta menulis berbagai angka dan huruf di antara garis-garis secara tepat.
i) Titik-titik: guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh dan huruf yang terbuat dari itik-titik. Selanjutnya, anak diminta untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh.
j) Menjiplak Dengan Semakin Dikurangi: pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk meneruskan penulisan.
k) Buku Bergaris Tiga: disebut juga buku tipis-tebal. Anak dapat berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar. Garis dapat diberi warna yang mencolok untuk meningkatkan perhatian anak.
l) Kertas dengan Garis Pembatas: kesulitan untuk berhenti menulis pada tempat yang telah ditentukan dibantu dengan mnggunakan pembatas berupa karton yang diberi “jendela” atau dibatasi dengan selotip.
m) Memperhatikan Tingkat Kesulitan Penulisan Huruf: diajarkan menulis dengan huruf-huruf yang lebih mudah, meningkat ke lebih sulit, dan baru kemudian gabungan dari keduanya.
n) Bantuan Verbal: mengucapkan petunjuk seperti “naik”, “turun”, “belok”, “stop”.
o) Kata dan Kalimat: setelah anak mampu menulis huruf-huruf, latihan ditingkatkan dengan menulis kata-kata dan selanjutnya kalimat. Penempatan huruf, ukuran, dan kemiringan juga diperhatikan.
Dari 15 macam aktivitas yang diungkapkan oleh Lerner tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang digunakan untuk membantu anak kesulitan belajar menulis permulaan atau menulis dengan tangan ini tidak terlalu sulit dan sangat mudah untuk dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak memerlukan biaya yang tinggi. Kegiatan tersebut juga berfungsi untuk mematangkan kemampuan motorik halus dan koordinasi antara mata dan tangan anak.
Bab IV
Implementasi Lapangan
4.1     Ekspektasi
Proses pemelajaran bahasa bagi anak usia invent hingga berlanjut ke masa toddler sebenarnya di laksanakan di ruang lingkup sosialisasi primer. Saat itulah pendidikan primer berlangsung. Pendidikan bahasa pada masa ini merupakan masa kritis dimana penanaman karakter akan tumbuh. pondasi awal bahasa baku akan tumbuh di masa ini, oleh karena itu sangat disarankan untuk mengarahkan penuturan selurus-lurusnya. Peran orang tua yang bijak sangat di perlukan
Pengembangan minat baca dapat di lakukan di masa toddler dan dapat dilakukan bersamaan dengan pengembangan kemampuan menulis.
Kemampuan menulis anak di lakukan pada masa preschool. atau pada usia 6 tahun agar tepat waktu dan perencanaan menjadi sesuai rancangan program pendidikan yang akan di lakukan pada masa pendidikan tingkat dasar.
4.2     Realita
          Kenyataannya tak sedikit orang tua yang mengabaikan kemampuan berbahasa        anaknya. Kebanyakan dari peserta didik akhirnya mengalami kesulitan dan merasa terpojokan karena kesulitan mengucapkan beberapa huruf seperti bunyi rambat yang kemudian dapat membuat siswa-siswi merasa kecil hati karena dianggap berbeda diantara temannya.
            Membaca adalah salah satu keterampilan wajib dan mutlak di masa ini, karena pemerintah sedang menggiatkan program pemberantasan buta huruf. Saya rasa tidak ada masalah, namun beberapa orang beranggapan bahwa kemampuan membaca sudah harus mahir pada usia 4-5 tahun adalah pemborosan umur yang dapat membuat siswa-siswi merasa jenuh kelak ketika memasuki bangku sekolah. selain itu, juga akan membuat teman-teman yang belum bisa membaca merasa rendah diri. Namun hal itu juga dapat di jadikan media untuk motivasi bagi kawan mereka yang belum bisa membaca.
Realita kemampuan menulis setiap anak saya rasa tidak ada masalah dari segi manapun, mungkin beberapa ada dari segi estetik yang harus di perbaiki, namun bagi penulis hal itu tidak terlalu mencolok.



Kesimpulan dan Saran
Membicarakan pengajaran bahasa, terutama di sekolah dasar tidak akan terlepas dari pembahasan psikolinguistik, sebab masalah pengajaran bahasa adalah masalah psikolinguistik. Psikolinguistik merupakan urat nadi pengajaran bahasa (Simanjutak,1982). Psikolinguistik dan pengajaran bahasa memang tidak dapat dipisahkan, karena fokus atau tumpuan psikolinguistik adalah pemerolehan bahasa (language acquisition), di samping pembelajaran bahasa (language learning) dan pengajaran bahasa (language teaching). Oleh sebab itu masalah-masalah dalam pengajaran bahasa, seperti masalah metode serta kesulitan membaca dan menulis permulaan di sekolah dasar telah banyak dicoba untuk dipecahkan dalam kajian-kajian psikolinguistik.
 Ketiga-tiga fokus kajian psikolinguistik, yaitu: pemerolehan, pengajaran dan pembelajaran bahasa berkaitan satu sama lain. Satu teori pembelajaran bahasa, misalnya Teori S-R (Stumulus – Response) akan diwarnai oleh keyakinan guru tentang bagaimana bahasa itu diperoleh dan dan dipelajari.
Oleh sebab itu sudah selayaknya calon guru, guru dan orang tua siswa sekolah dasar mendalami teori-teori pemerolehan dan pembelajaran bahasa guna meningkatkan wawasan dan keterampilan mengajarnya.
Adapun beberapa saran lain, yaitu sebaiknya pengembangan kemampuan berbahasa, membaca dan menulis sebaiknya di lakukan secara hirarki dan benuh kesabaran. Dibutuhkan peran orang tua murid dalam membimbing pengembangan ketiga kemampuan tersebut. Sebab, apabila mengandalkan waktu di sekolah, akan sangat tidak memadai.




Daftar Pustaka

Abimanyu, Soli dan Djamán, Satori. 1995.Model Pembelajaran di Kelas-Kelas Awal SD. Dekdikbud.
Bidasari, Yzhie. Perkembangan Anak pada Masa Infancy. Mei 11, 2010. http://lubangigi.blogspot.com/2010/05/perkembangan-anak-dalam-masa-infancy.html (accessed Mei 10, 2015).
Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. ECHA, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta.Grasindo.
HAJANI, TRI JULI. KEMAMPUAN MENULIS ANAK USIA DINI. Skripsi, Bengkulu: Universitas Bengkulu, 2014.
PSIK B, Universitas Brawijaya Kampus IV . MENGENAL PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK PADA USIA TODDLER ( 1 – 3 TAHUN ). Januari 27, 2014. http://nersclassb2013.blogspot.com/2014/01/mengenal-pertumbuhan-dan-perkembangan.html (accessed Mei 10, 2015).
Tatat Hartati, M.Ed., Ph.D. "PEMEROLEHAN DAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK." UPI. http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/PENDIDIKAN_BAHASA_DAN_SASTRA_INDONESIA_DI_SEKOLAH_DASAR_KELAS_RENDAH/BBM_2.pdf (accessed Mei 10, 2015).





Lampiran
Tabel 1: Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa
Tahap
Usia/Bulan
MLU
Karakteristik
I
12 – 26
1 – 2
Perbendaharaan kata terdiri atas kata benda dan kata kerja, dengan sedikit kata sifat dan kata bantu
II
27 – 30
2 – 2,5
Kalimat-kalimat anak lebih kompleks, kata majemuk terbentuk, menggunkan preposisi, kata kerja tak beraturan, tensisi, bentuk jamak
III
31 – 34
2,5 – 3
Muncul pertanyaan “Ya-tidak”, “siapa, apa, dimana”, kata-kata negative (tidak) dan kata-kata perintah dan permohonan
IV
35 – 40
3 – 3,75
Perbendaharaan kata meningkat, penggunaan kata lebih konsisten, mengaitkan kalimat yang satu di dalam kalimat yang lain
V
41 – 46
3,75 – 50
Kalimat lebih kompleks dengan menggabungkan 2 atau lebih kalimat, kalimat-kalimat sederhana dan hubungan-hubungan prorosisi terkoordianasi
Sumber : Santrock, Lerner & Hultsch (Desmita, 2006)