Wednesday, March 4, 2015

[PUISI] Belajar Yang Rajin

Aku?
Bukan cuma Aku,
yang berjuang hari ini mengejar pagi agar malam tak lagi geram
dan membunuh pagi meraum-raum pada sore.

Mereka!
Yang bangkit dari lumpur, yang terjatuh lalu tegak berdiri
menantang pagi, melawan matahari dan menanti sore
untuk menahlukan padang pasir.

Tapi Aku?
Disini hanya duduk manis, menatap lantai
lalu aku disini tak sama seperti kalian.
aku hanya berpeluh pegal dan kalian berpeluh darah.

Kalian
Maafkan aku, kepada kalian yang berkorban meraih bangku ini yang seharusnya disini.
Tapi aku yang malah disini, Aku yang bukan pejuang itu, dan hanya pengikhlas
Aku hanya ingin perlahan dan berjuang dengan caraku
bukan memaksa diri sampai terjatuh di lumpur itu, Aku tak bisa,

Maafkan... Aku  sadar
Belajar Yang rajin bukan apa apa.
Tanpa doa orang lain dan sejuta syukur atas apapun.
Belajar Yang rajin Bukanlah kendaraanmu....
Tapi aku ingin bersyukur atas apa yang ada
dan kemudian tajam menatap matahari dengan segala ketenangan tanpa setetes ambisi.

04-03-2015

Contoh "Paper":Sastra Lisan

Sastra Lisan
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah apresiasi sastra




Disusun oleh:
1.    Adistya Maulida 2115142193
2.    Cicilia Stephanie 2115142182
3.    Fenny Fatmala 2115142171
4.    Muhammad Faris T.A 2115142174
5.    Rahma Ayudias Shinto
6.    Ridho Ahmad Fikri Madani 2115142191
7.    Syarifah Syifa Alkaf 2115142180
8.    Yoan Fucshy Wardani

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Jakarta
2014
-----------------------------------------------------------------

Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun temurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut).Pada dasarnya sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa inggris oral literature. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa belanda orale letterkuade. Kedua pendapat mengenai istilah sastra lisan di atas dapat dibenarkan. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah istilah itu dalam dirinya sendiri mengandung kontradiksi. Oleh sebab itu, kita harus dapat mengerti dan memahami apa pengertian sastra lisan dan pembagian – pembagiannya maupun asal usulnya. Maka dengan pembahasan mengenai sastra lisan ini, diharapkan penulis maupun pembaca dapat memahami sastra lisan. Baik penggolongan ciri dan perkembangannya dalam kehidupan masyarakat baik masyarakat trdisional maupun masyarakat modern.
A. Sastra Lisan
Istilah sastra lisan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris oral literaturs. Ada juga yang menyatakan bahwa istilah itu berasal dari bahasa Belanda orale letterkunde. Kedua pendapat itu dapat dibenarkan, tetapi yang menjadi soal adalah bahwa istilah itu dalam diirinya sendiri sebenarnya mengandung kontrakdiksi (pinnegan, 1977: 167), sebab kata literature (sastra) itu merujuk pada kata literae, yang bermakna letters.
Dalam karangannya yang berjudul What is Literature, hal itu juga dikemukakan oleh Rene Wellez sarjana besar ini mengatakan istilah literature. Menurut Rene Wellek, istilah literature itu sebenarnya tidak menguntungkan sebab di dalamnya tidak mencakup apa yang dinamakan sastra lisan.
Begitulah masalah yang ada antara istilah ‘sastra lisan’ dengan tulisan atau cetakan. Hal ini kiranya tidak dipersoalkan orang. Konsep istilah ini kini bermakna sebagai berikut:
Yang dinamakan sastra lisan atau kesusastraan lisan adalah kesusatraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun menurunkan secar lisan (dari mulut kemulut).
Di Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat  masih banyak yang buta huruf (umumnya para petani pendesaan). Dengan begitu, apa  yang dinamakan dalam masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di istana-istana , pusat-pusat agama,  dan lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak dijumpai di kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.
B. Folklore
Sastra lisan sering dikaitkan orang dengan apa yang dinamakan folklore.  Istilah folklore pada mulanya adalah ciptaan Jhon Thoms kira kira pertengahan abad ke-19). Istilah ini digunakan untuk mengganti istilah popular antiouities. Menurut Jhon Thoms istilah yang terakhir tidak tepat untuk merujuk pada fenomena-fenomena yang hidup dan yang masih mendapt tempat dalam kehidupan sekelompok penduduk di luar kota di negeri Inggris pada waktu itu. Di Indonesia apa yang dinamakan dengan folklore itu merupakan ilmu yang masih baru. Dalam hubungan ini orang tak banyak tahu kat folklore itu berasal dari dua perkataan Inggris, yaitu Folk dan Lore.
Menurut seorang ahli folklore Amerika, yaitu Alan Dundes, yang dimaksud dengan folk itu adalah kelompok orang – orang yang mempunyai cirri-ciri pengenal kebudayaan yang ciri-cirinya tadi dapat membedakannya dari kelompok lain. Sedangkan yang dimaksud dengan lore adalah tradisi dari folk. Ia diwariskan turun- temurun melalui cara lisan atau melalui contoh yang disertai dengan perbuatan.
Folklore itu mempunyai ciri-ciri khusus. Menurut Jan Harold Brunvand dalam bukunya The Study of American Folklore (1968), halaman 4, folklore mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)      It is oral;
2)      It is traditional;
3)      It exists in different versions;
4)      It is usually anonymous;
5)      It tonds to become formularized.
Jadi, folklore itu disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi , yang kadang-kadang  penuturannya itu  disertai dengan perbuatan ( misalnya, mengajar tari, mengajar membatik, mengajar mendalang).
Konsep folklor itu sebenarnya mencakup beberapa hal, yaitu :
1.    Sastra lisan
2.    sastra tertulis penduduk daerah pedesaan dan masyarakat kota kecil.
3.    Ekspresi budaya, mencakup :
o    Teknologi budaya.
o    Pengetahuan rakyat
o    Kesenian dan rekreasi ( arsitektur tradisional,kerajinan rakyat,seni pandai gamelan, pengobatan tradisional, ilmu firasat, numerologi atau ilmu petungan, seni ukir, tari-tarian, dan permainan).
Khusus untuk bangsa-bangsa Afrika dan Asia kesenian, kesusastraan dan ekspresi intelektual estetik lain yang bersifat  ‘ agama besar formal ‘, agama, metropolitan, semua tidak dimasukkan ke dalam konsep folklor.
Hal – hal tersebut oleh Jan Harold Brunvand dibuat lebih terperinci lagi. Oleh beliau bahan– bahan folklor itu dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
1.    Verbal folklor ( folklor lisan )
2.    Partly verbal folklor ( folklor setengah lisan )
3.    Non verbal folklor ( folklor bukan lisan ).
Dalam hubungan dengan folklor lisan, maka bahan – bahan itu mencakup :
1.    Ungkapan tradisional ( peribahasa, pepatah ).
2.    Nyanyian rakyat.
C. Bahasa rakyat
( dialek, julukan,sindiran, wadanan, bahasa rahasia,dan lain-lain.)
D. Teka teki, dan
E. Cerita rakyat
( dongeng, dongeng suci ( mite ) legenda dan lain – lain ).
Yang termasuk folklor setengah lisan adalah bahan – bahan folklor yang berupa :
A.Drama rakyat ( ketoprak, ludruk, lenong, wayang dan lain – lain ).
B.Tari ( serimpi, kuda lumping, dan lain – lain ).
C.Kepercayaan dan takhyul.
D.Upacara – upacara ( ulang tahun, perkawinan, kematian, sunatan dan lain –            lain )
E. Permainan rakyat dan hiburan rakyat
 ( macanan, gobak sodor  dan lain – lain ).
F. Adat kebiasaan
( gotong royong, batas umur pengkhitanan anak dan lain –               lain).
G. Pesta rakyat
( wetonan, sekaten dan lain – lain ).
Folklor bukan lisan di bagi menjadi dua yaitu yang berupa materil dan bukan materil. Yang termasuk materil adalah : mainan ( boneka ), makanan dan minuman, peralata n dan senjata, pakaian dan perhiasan dan lain – lain.
Sedangkan yang termasuk dalam bukan materil adalah : musik, ( gamelan sunda, jawa, bali ) dan bahasa isyarat mengangguk berarti setuju dan lain – lain.
PENGERTIAN DAN MACAM FOLKLOR

Kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, yang merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Beberapa pengertian folklor dari tokoh:

1. Alan Dundes

Folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

2. Leach dan Jerome

Dalam bukunya berjudul Dictionary of Folklore Mythology and Legend, yaitu:
A.     Folklor mencakup kreasi tradisional masyarakat primitif (sederhana) maupun beradab.
B.      Folklor adalah ilmu tentang kepercayaan tradisional, cerita-cerita takhyul yang semuanya berkaitan dengan hal-hal yang supranatural.

3. Danandjaja

Folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Secara keseluruhan folklor dapat didefinisikan yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu. Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun.

Folklor sebagai bagian dari kebudayaan suatu kolektif, tentunya memiliki cirri ciri tersendiri yang merupakan identitas pembeda dengan kebudayaan yang lain. Ciri-ciri pengenal folklor telah banyak dikemukakan oleh para ahli seperti Brunvand dan Carvalho-Neto, ciri-ciri pengenal yang dikemukakan mereka kemudian dirumuskan oleh Danandjaja (2002), yaitu:
A.   Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan,
yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya.

B.   Folklor bersifat tradisional, 
yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).

C.   Folklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang bebeda.
Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi, folklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.


D.   Folklor bersifat anonim, 
yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.

E.   Folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. 
Cerita rakyat, misalnya, selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas” untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis dan “seperti ular berbelit-belit” untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutupan yang baku, seperti kata “sahibul hikayat … dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya,” atau “Menurut empunya cerita … demikianlah konon” atau dalam dongeng Jawa banyak dimulai dengan kalimat Anuju sawijining dina (pada suatu hari), dan ditutup dengan kalimat : A lan B urip rukun bebarengan kayo mimi lan mintuna (A dan B hidup rukun bagaikan mimi jantan dan mimi betina).

F.    Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. 
Cerita rakyat, misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.

G.   Folklor bersifat pralogis, 
yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan sebagai.

H.   Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektiftertentu.
Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.

I.     Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu,
sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan.
Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya



Menurut Jan Harold Brunvand dalam Danandjaja (2002) seorang ahli folklore AS, folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya: (1) folkor lisan (verbal folklore), (2) folklor sebagian lisan (partly verbal folklore), dan (3) folklor bukan lisan (non verbal folklore). 

Selanjutnya pengelompokan ini diuraikan oleh Danandjaja (2002)


Folklor lisan

Folklor lisan bentuknya murni lisan. Bentuk-bentuk (genre) folklore yang termasuk pada kelompok ini antara lain : (1) bahasa rakyat (folk speech) seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan title kebangsawanan; (2) ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pomeo; (3) pertanyaan tradisional, seperti teka-teki; (4) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (5) cerita prosa rakyat, seperti mite, legenda, dan dongeng; dan (6) nyanyian rakyat. (kentongan tanda bahaya di Jawa atau bunyi gendang untuk mengirim berita seperti yang dilakukan di Afrika), dan musik rakyat.


Folklor sebagian lisan

Folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsure bukan lisan. Kepercayaan rakyat misalnya, yang oleh orang “modern” seringkali disebut takhyul itu, terdiri dari pernyataan yang bersifat lisan ditambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib, seperti tanda salib bagi orang Kristen Katolik yang dianggap dapat melindungi seseorang dari gangguan hantu, atau ditambah dengan benda material yang dianggap berkhasiat untuk melindungi diri atau dapat membawa rezeki, seperti batu-batu permata tertentu. Bentuk-bentuk folklor yang tergolong dalam kelompok besar ini, selain kepercayaan rakyat, adalah permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat-istiadat, upacara, pesta rakyat, dan lain-lain.


Folklor bukan lisan

Folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi dua subkelompok, yakni yang material dan yang bukan material. Bentukbentuk folklor yang tergolong yang material antara lain: arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi, dan sebagainya), kerajinan tangan rakyat, pakaian dan perhiasan tubuh adat, makanan dan minuman rakyat, dan obat-obatan tradisional. Sedangkan yang termasuk yang bukan material antara lain: gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat

Dalam kehidupan masyarakat, folklor memiliki fungsi sebagai sistem proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, sebagai alat pendidik anak, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Seorang guru besar ilmu folklor di Universitas Kalifornia Berkeley dalam Danandjaja (2002) mengemukakan bahwa fungsi folklor itu ada empat, yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi (projective system), yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif; (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device); (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya

C. Tradisi Lisan
Istilah tradisi lisan ini merupakan terjemahan dari bahasa dari Inggris oral tradition. Adapun istilah ini hanpir sama pengertiaanya dengan konsep folklore, bedanya hanya terletak pada unsur-unsur yang di transmisi secara lisan, yang kadang-kadang diikuti dengan tindakan.
Menurut keputusan atau rumusan UNESCO, yang dinamakan tradisi lisan itu adalah : those traditions wgich have been transmitted in time and space by the word and act, yang kira kira artinya : tradisi yang ditransmisi dalam waktu ydan ruang dengan ujaran dan tindakan. (Anvisory Committee, 1981)
Dengan begitu tradisi lisan, itu mencakup beberapa hal. Yaitu:
1) Yang berupa kesusastraan lisan
2) Yang berupa teknologi tradisional
3)  Yang berupa pengetahuan folk di luar pusat pusat istana  dan kota metropolitan
4) Yang berupa unsur unsur religi dan kepercayaan folk di luar batas     formal agama-agama besar
5) Yang berupa kesenian folk di luar pusat pusat istana dan kota   metripolitan
6) Yang berupa hukum adat













SUMBER


Saturday, February 28, 2015

Bahagia dan Sedih Hanya dibatasi Oleh Pita

Bahagia
Kemudian sedih,
Hanya dibatasi oleh seutas pita kecil
yang tipis dan tidak terurai.

Hanya ada sedikit air mata, kering
dan ada banyak tawa yang tersisa.
selebihnya hanya luka dan garam dapur yang tertabur

Hanya ada sedikit warna, polos
dan ada banyak pola yang tergambar,
selebihnya hanya guratan-guratan benang hidup.

Itulah hidup dan kehiduan
yang saling memberi dan melupakan
yang saling menggores dan merelakan.

Karena hidup harus lupa tujuannya. arah dan waktu
agar tersesat dan menemukan jalan baru, tanah gersang.
hanya tanah tanpa batuan.
berjalan menyebrangi pita itu, melepaskan dan meluluhkan mata hati,
Siapa aku, bagi arti hidup ini. mengorbankan adalah jawaban,
karena pita selalu kita lewati... pita bahagia dan sedih

Sunday, October 19, 2014

[Puisi] Penghantar, Ia Rindu

Penghantar, Ia Rindu

oleh Muhammad Fariz Tamara Asmarakusuma

Dahulu,
pagi hari,
deru halus memulai pagi.
Bersiaplah Melangkah kemanapun.

Kini.
Pagi hari,
hanya sepi memulai pagi,
Hanya menunggu dan menunggu.

Dahulu,
Kau pijakan kaki di pedal itu,
Kau tarik-maju bangku itu.
Perlahan pergi bersama gadis itu dan antartkan menuju rutinitas itu

Kini,
Pedal itu mati.
Bangku itu menangis.
Dan gadis itu sendiri,
melangkah sendiri tapaki hari.

Tiada bersinar kilaumu,
sesederhana dan apa-adanya.
Hanya tampak debu tebal.
Adakah rindumu padanya?

Ia, Mobil itu.
Barusaja Kau jadikan keluarga
kini kau tinggalkan Ia Sendirian,

Ia, Mobil itu.
Bak merindukan rutinitasnya
seolah tersenyum-hati rindu,
ditinggal pulang ke sang khalik.

[Puisi] Mesin Tua

Mesin Tua

oleh Muhammad Fariz Tamara Asmarakusuma

Asap mengepul,
suara nan garing,
kaleng tua berjalan
diatas aspal reformasi pembangunan.

Cahayanya nan sayu
mudahnya terkalahkan.
Jarumnya tak lagi menunjuk,
lama tak diperhatikan

Ia disana tiada sekejap.
Ialah rupa kasih bumi pertiwi
nan membawa harum nusa-bangsa.
Ialah kongo tahun enampuluh,
Vespa tua dari sang reformator
bagi para garuda penjaga dunia.

[Puisi] Manusia Berisik

Manusia Berisik

oleh: Muhammad Fariz Tamara


Gemuruh, Suara hujankah?
Gemuruh, Suara Runtukah?
Gemuruh, Geraman harimau-kah?
Bukan! Tak satupun!

Bergerombol, Lebahkah?
Pentingkah?

Tidak! Hanya guyonan!
Tak penting.
Hiraukan dan diamkan
dimulai dari aku,
Hening....